Tampilkan postingan dengan label Tuntunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tuntunan. Tampilkan semua postingan

MUSLIM BERSAUDARA

Muslim bersaudara

Ingatlah teman
Apabila engkau banyak berkata kata
Disitulah masuknya kata dusta

Ingatlah teman
Apabila engkau banyak berlebih lebihan suka
Disitulah engkau mengundang duka

Ingatlah teman
Apabila anak tidak di latih
Jika besar orang tuanya akan letih

Ingatlah teman
Apabila engkau banyak mencela orang
Itulah tandanya engkau kurang

Ingatlah teman
Apabila engkau banyak tidur
Sia sialah sajalah umur

Ingatlah teman
Apabila engkau menerima kabar
Menerima itu hendaknya sabar

Ingatlah teman
Apabila engkau Mendengar aduan
Membicarakan hendaknya wujud ceburuan

Ingatlah teman
Apabila engkau mendengar perkataan lemah lembut
Lekaslah engkau untuk ikut

Ingatlah teman
Apabila engkau mendengar pekataan kasar
Lekaslah engkau gusar

Ingatlah teman
Apabila engkau benar
Jangan boleh orang berbuat onar

Coretan dari manusia yang lupa.

CARA MUDAH MENGHADAPI KRITIKAN PEDAS

LA TAHZAN (Cara Mudah Menghadapi Kritikan Pedas)

Bismillahi Rohmaani Rohiim…

Segala Puji Bagi Allah SWT, Doa dan Salam ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW dan rasul2-Nya dan kepada keluarga dan sahabat.

Allah swt adalah Maha Pemberi rezeki, acapkali mendapat cacian dan cercaan dari orang-orang pandir yang tak berakal, apalagi saya, Anda dan kita sebagai manusia yang selalu terpeleset dan salah.

Dalam hidup ini kamu akan menjumpai kritikan-kritikan yang pedas dan pahit, Dan jika itu terjadi, Apakah kamu lalu bersedih? Apakah kamu lalu menangis sehinggga tidur pun menjadi gerah?

Perlu diingat, mereka, marah dan kesal kepada kamu karena Kamu lebih unggul, Unggul dalam hal kebaikan, Unggul dalam keilmuan, Unggul akan harta, kamu di mata mereka adalah orang berdosa.

MEREKA AKAN PUAS jika kamu melepaskan semua karunia dan nikmat Allah SWT, Jika kamu meninggalkan semua sifat terpuji, Jika kamu meninggalkan nilai- nilai luhur yang menjadi prinsip kamu, Jika kamu menjadi orang yang bodoh, pandir dan tolol.

Waspadalah terhadap apa yang mereka lakukan, kuatkan jiwa untuk mendengar kritikan mereka, kuatkan jiwa untuk mendengar cemoohan mereka, kuatkan jiwa untuk mendengar hinaan mereka, bersikaplah laksana batu cadas tetap kokoh berdiri meski diterpa butiran butiran salju.

Jangan terpengaruh atas kritikan, cemoohan dan hinaan, jika terpengaruh, kamu telah meluluskan keinginan mereka Dan kamu rela mencemarkan kehidupanmu.

Trus bagaimana caranya agar tidak terpengaruh…???

Respon kritikan mereka dengan menunjukkan akhlak yang baik, acuhkan saja mereka Dan jangan pernah merasa tertekan, pada hakekatnya kritikan itu merupakan ungkapan penghormatan untuk Anda.

INGATLAH!!.., semakin tinggi derajat dan posisi kamu maka akan semakin pedas pula kritikan itu, komentari setiap perkataan mereka sebagaimana yang diperintahkan Allah, katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu (QS. Ali ‘Imran: 119)

Bahkan kamu juga dapat ‘menyumpal’ mulut mereka agar diam seribu bahasa, bagaimana caranya…??? Memperbaiki akhlak dan meluruskan setiap kesalahan kamu… La haula wala Quwwata illa billah. Tiada daya upaya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah

Wassalam

KUNCI PERMASALAH

Kunci permasalah

Dalam menempuh hidup, pastiah kita banyak dihadapkan dengan suatu masalah, baik itu kecil maupun besar.

Pernahkan kita berpikir bagaimana masalah itu bisa datang?

Kalau kita gali dan teliti, sesungguhnya ujian dan cobaan itu di berasal dari Allah, tujuannya untuk menguji sebatas mana ketakwaan kita pada Allah swt

INGAT!!! ALLAH MENGUJI KITA SESUAI DENGAN KEMAMPUAN KITA, ARTINYA : SEHARUSNYA KITA MAMPU MENYELESAIKANNYA

Teringat kata kata seseorang bernama HOCK AMBARA kata orang tukang aransemen lagu gituu..

Ingatlah jika engkau dihadapkan oleh suatu masalah KUNCINYA ADALAH

HATI, AKAL dan NAFSU (JANGAN DIRUBAH SUSUNANNYA)

H > A> N = 0
susunan yg menghasilkan kedamaian (KEIKHLASAN) klo dalam dunia matematika aggap aja ni ketetapan…hiks (inget waktu sekolah dulu)

    H = hati

    A = akal

    N = nafsu


Pada hakekatnya manusia itu punya kelebihan dari mahluk Allah lainnya.

APA SIH KELEBIHAN KITA?

    1. kita pnya akal untuk berpikir

    2. kita punya nafsu memenuhi hasrat hidup

    3. kita punya hati yg selalu berkata jujur


Kenapa hati yang pertama mugkin itu yg menjadi pertanyaan anda?

mari kita gali…

contoh kecil aja ya….

seorang pemimpin perusahaan memarahi karyawannya padahal si karyawan tidak merasa melakukan kesalahan misalkan nih ya…
bagaimana sikap kita jika kita yg menjadi karyawannya..

klo melihat rumus diatas:

Hati>akal>nafsu = 0

Hati berkata : wah si bos mgkin lagi capek
Akal : klo aku membela diriku pasti tambah runyam

nafsu: biarin ajalah toh marahnya g trus trusan

hsilnya 0 (kedamaiaa dan keiklasan)

Kita rubah susunanya

hati: wah si bos lagi capek/marah – marah

nafsu: tapi aku juga capek, enak aja marah2

akal: berusaha untuk menaggapi kesalahan si bos

hasil= untuk km sp1

nafsu : bukan saya pak yg melakukan kesalahan

akal: buktinya apa pak klo saya melakukan kesalahan.

hati: ENAK AJA MARAH2 si hati berbisik “awas lho pulang gue santet”

hasilnya = mengasilkan suatu yg buruk

Akal= bukan saya pak yg mlakukan

hati = enak aja main tuduh….huft dasar bos stress

nafsu= apa yg dari hati dikeluarkan…Bapak nih gimana? sy juga capek

hsilnya= ‘pecat’ paling gak dapat sp2 akibat menggurui si bos
Berhubung dengan adanya pertanyaan hati yg seperti apa yg menjadi tolak ukur untuk menyelesaikan suatu masalah?

Disini saya mau mejelskan dulu arti dari sebuah Hati, arti hati berasal dari kata kalbu, dilihat dari bahasa arab berakar dari kata kerja yaitu qalaba yg artinya membolak balikkan yaitu kadang hati kita baik kadang juga hati kita buruk istilah gaulnya sih bad mood

Pernahkah kita, disaat hati kita bisa memberi dan menerima…??

Pernahkan kita, disaat hati kita tidak bisa memberi dan menerima..??

Hati yang berubah ubah ini didasari dari hadis nabi, kadang hati lamma malakiyah(bisikan malaikat) mengajak kebaikan atau keikhlsan dan lamma syaithaniyah(bisikan setan) dalam arti bisikan nafsu mengajak ke jurang kehancuran

Hati yang bagaimana yang menjadi tolak ukur untuk menyelesaikan masalah?

jawab : Hati yang mengajak kita menuju jalan kebaikan dan keikhlasan bukan hati yang menjerumuskan kita kejurang kehancuran yg terkontaminasi oleh hawa nafsu

Pertanyaan2

Bagaimana mensinkronasikan antara hati, akal, nafsu dalam kehidupan sehari hari?

Kalau boleh saya menggunkan rumus matematika untuk menjawab pertanyaan diatas,

A + B = 0

dimana

A = lamma malakiyah

B = lamma syaithaniyah

Untuk menjawab pertanyaan diatas, A (lamma malakiyahnya) harus lebih mendominsi kehidupan kita, lalu bagaimana caranya..

jika A yang kita cari maka jawabannya adalah

A = – B

jadi kita harus mengurangi B (lamma syaithaniyah)

caranya : dalam islam kita diajarkan berdzikir, sholat, puasa dimana tujuannya untuk mengurangi lamma syithaniyah

Demikian penjelasan dari saya, untuk menanggapi pertanyaan hati yng menjadi tolak ukur dalam menyelesaikan masalah

UMUR YANG MENCAIR SEPERTI ES


Cepat sekali waktu berlalu. Mengalir tak pernah berhenti.
Jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, bergerak. Waktu tak dapat ditunda, tak dapat ditahan dan tak mungkin ada yang mampu mengulang. Itu artinya, usia kita pun berkurang. Kita... semakin dekat ke liang lahat.


Saudaraku, entah, apakah pertambahan dan perguliran waktu itu, berarti mendekatkan diri kita pada kenikmatan surga. Atau mendekatkan kita pada kesengseraan neraka. Nauzubillah....

Rasul saw. Menyifatkan cepatnya perjalanan waktu kehidupan seperti perjalanan seorang musafir yang hanya sejenak berhenti di bawah pohon di tengah perjalanan yang amat panjang. Para ulama juga banyak menguraikan ilustrasi tentang hidup yang amat singkat ini. "Umurmu akan mencair seperti mencairnya es, " kata Imam Ibnul Jauzi. (Luthfu fil Wa'z, 31)

Saudaraku, sahabatku, Semoga Allah memberkahi sisa usia kita, Permasalah terbesar setiap orang adalah ketika kecepatan umur dan waktu hidupnya tidak seiring dengan kecepatannya untuk menyelamatkan diri dari penderitaan abadi di akhirat. Ketika, usia yang sangat terbatas itu tidak berfungsi sebagai pelindung diri dari beratnya adzab dan siksa Allah swt. Di saat, banyaknya hembusan dan tarikan nafasnya tak sebanding dengan upaya dan jihadnya untuk terhindar dari lubang kemurkaan Allah. Ketika, jumlah detak jantung dan aliran darah yang di pompa di dalam tubuhnya, tak sebanyak gerak dan tingkahnya untuk menjauhi berbagai kemaksiatan yang dapat memunculkan kesengsaraan akhirat.

Saudaraku, Sesungguhnya jiwa kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah jiwa ini akan kembali.... Suasana hati seperti inilah yang perlu kita tumbuhkan. Adakah di antara kita yang tidak mempunyai dosa? Atau merasa mampu menebus kotoran dan dosa yang telah dilakukan selama puluhan tahun usia yang telah lewat? Tentu tidak. Perasaan kurang, merasa banyak melakukan kemaksiatan, lalu menimbulkan penyesalan adalah bagian dari pintu-pintu rahmat Allah yang akan mengantarkan kita pada taubat. Suasana hati seperti inilah yang akan mendorong pemilikinya bertekad mengisi hari dengan amal yang lebih untuk menebus kesalahan yang lalu.

Saurdaraku, mari menangguk pahala, meraih rahmat dan ampunan Allah sebanyak- banyaknya sekarang juga. Perbanyaklah dzikir, bersedekah, berjihad dan beramal shalih.....Tak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan. Sekarang dan jangan tunda- tunda lagi niat baik kita....

Semoga Allah meneguhkan kekuatan kita untuk melakukan kebaikan yang kita niatkan... Aamiiin...
****

※Nb: tuk sobat semuanya yang belum menjadi fan page saya silahkan klik like DISINI dan jangan lupa kunjungi juga situs web saya di Kuningan Asri
Wassalam Pembela Kebenaran

KUNCI KEBERKAHAN HARTA

Kekayaan yang Allah berikan kepada manusia merupakan titipan sementara. Sebagian manusia mendapatkan titipan itu dengan jumlah yang besar dan sebagian yang lain mendapatkannya dengan jumlah kecil. Namun, menurut ajaran Islam, keberkahan harta benda itu tidak ditentukan oleh besaran jumlahnya.

Harta kekayaan seseorang akan berkah jika pemiliknya melakukan amalan-amalan sesuai dengan tuntunan Islam. Berikut amalan-amalan yang dimaksud.

Pertama, syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya.

Allah berfirman, "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan. Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS Ibrahim [14]: 7).

Kedua, silaturahim. Amalan ini merupakan upaya menyambung tali persaudaraan antarsesama manusia: merajut dan memperkuat ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Muslim) dan ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia). Praktik ini dapat melapangkan rezeki dari Allah.

Abu Hurairah RA menyampaikan sebuah hadis Nabi SAW yang berkaitan dengan hal ini, "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali kekerabatan (silaturahim)." (HR Bukhari).

Ketiga, menafkahkannya di jalan Allah. Berkembangnya harta dipengaruhi juga oleh faktor di mana ia dibelanjakan. "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan, Allah Mahaluas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS Albaqarah [2] ayat 261).

Keempat, senantiasa melakukan kebaikan. Segala kebaikan akan kembali kepada pelakunya. Kebaikan itu akan membuahkan keberkahan dan kebahagiaan. Dalam Alquran, dijelaskan, "Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu." (QS Al-Isra' [17]: 7).

Kelima, berzakat dan bersedekah. Zakat dan sedekah akan membersihkan harta seseorang karena di dalamnya terdapat hak orang lain. Allah berfirman, "Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu, kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya, doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Attaubah [9]: 103).

Itulah lima amalan yang akan mendatangkan keberkahan harta kekayaan. Semoga Allah menurunkan keberkahan-Nya dari langit dan bumi melalui harta kekayaan yang kita miliki.

****

※Nb: tuk sobat semuanya yang belum menjadi fan page saya silahkan klik like DISINI dan jangan lupa kunjungi juga situs web saya di Kuningan Asri
Wassalam Pembela Kebenaran

TATA CARA SHALAT TASBIH

SHOLAT TASBIH

Shalat sunat tasbih adalah shalat sunat yang di dalamnya dibacakan kalimat tasbih sebanyakk 300 kali

Niat shalat tasbih:

Ushallii sunnatattasbihi rak'ataini lillaahi ta'aalaa.

Artinya: "Aku niat shalat sunat tasbih dua rakaat, karena Allah."

A. Tata Cara Shalat Tasbih

Shalat tasbih dilakukan 4 raka'at (jika dikerjakan siang maka 4raka'at dengan sekali salam, jika malam 4 raka'at dengan dua salam ) sebagaimana shalat biasa dengan tambahan bacaan tasbih pada saat-saat berikut:

① Setelah pembacaan surat al fatihah dan surat pendek saat berdiri (15 x)

② Setelah tasbih ruku' (Subhana rabiyyal adzim...) (10 x)

③ Setelah I'tidal (10 x)

④ Setelah tasbih sujud pertama (Subhana rabiyyal a'la...) (10 x)

⑤ Setelah duduk diantara dua sujud (10 x)

⑥ Setelah tasbih sujud kedua (10 x)

⑦ Setelah duduk istirahat sebelum berdiri (atau sebelum salam tergantung pada raka'at keberapa) (10 x)

Jumlah total satu raka'at (75 kali)

Jumlah total empat raka'at = 4 X (75 kali)
= 300 kali

B. Perbedaan pendapat ulama

Di kalangan para ulama terdapat perbedaan pendapat mengenai ada tidaknya shalat tasbih, berikut adalah beberapa pendapat mereka:

1. Kalangan Pertama: Sholat tashbih adalah mustahabbah (sunnah)

Pendapat ini dikemukakan oleh sebagian ulama penganut Mazhab Syafi'i. Hadits Rasulullah saw kepada pamannya Abbas bin Abdul Muthallib yang berbunyi:

"Wahai Abbas pamanku, Aku ingin memberikan padamu, aku benar-benar mencintaimu, aku ingin engkau melakukan -sepuluh sifat- jika engkau melakukannya Allah akan mengampuni dosamu, baik yang pertama dan terakhir, yang terdahulu dan yang baru, yang tidak sengaja maupun yang disengaja, yang kecil maupun yang besar, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Sepuluh sifat adalah: Engkau melaksankan shalat empat rakaat; engkau baca dalam setiap rakaat Al-Fatihah dan surat, apabila engkau selesai membacanya di rakaat pertama dan engkau masih berdiri, mka ucapkanlah: Subhanallah Walhamdulillah Walaa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar 15 kali, Kemudian ruku'lah dan bacalah do'a tersebut 10 kali ketika sedang ruku, kemudian sujudlah dan bacalah do'a tersebut 10kali ketika sujud, kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali kemudian sujudlah dan bacalah 10 kali kemudian bangkitlah dari sujud dan bacalah 10 kali. Itulah 75 kali dalam setiap rakaat, dan lakukanlah hal tersebut pada empat rakaat. Jika engkau sanggup untuk melakukannya satu kali dalam setiap hari, maka lakukanlah, jika tidak, maka lakukanlah satu kali seminggu, jika tidak maka lakukanlah sebulan sekali, jika tidak maka lakukanlah sekali dalam setahun dan jika tidak maka lakukanlah sekali dalam seumur hidupmu" (HR Abu Daud 2/67-68)

2. Pendapat Kedua: Shalat tasbih boleh dilaksanakan (boleh tapi tidak disunnahkan)

Pendapat ini dikemukakan oleh ulama penganut Mazhab Hambali. Mereka berkata: "Tidak ada hadits yang tsabit (kuat) dan sholat tersebut termasuk Fadhoilul A'maal, maka cukup berlandaskan hadits dhaif."

Ibnu Qudamah berkata:

"Jika ada orang yang melakukannya maka hal tersebut tidak mengapa, karena shalat nawafil dan Fadhoilul A'maal tidak disyaratkan harus dengan berlandaskan hadits shahih." (Al-Mughny 2/123)

3. Pendapat Ketiga: Shalat tersebut tidak disyariatkan.

Imam Nawawi dalam Al-Majmu' berkata, "Perlu diteliti kembali tentang kesunahan pelaksanaan sholat tasbih karena haditsnya dhoif, dan adanya perubahan susunan shalat dalam shalat tasbih yang berbeda dengan shalat biasa. Dan hal tersebut hendaklah tidak dilakukan kalau tidak ada hadits yang menjelaskannya. Dan hadits yang menjelaskan shalat tasbih tidak kuat".

Ibnu Qudamah menukil riwayat dari Imam Ahmad bahwa tidak ada hadis shahih yang menjelaskan hal tersebut. Ibnuljauzi mengatakan bahwa hadits-hadits yang berkaitan dengan shalat tasbih termasuk maudhu`. Ibnu Hajar berkata dalam At-Talkhis bahwa yang benar adalah seluruh riwayat hadits adalah dhaif meskipun hadits Ibnu Abbas mendekati syarat hasan, akan tetapi hadits itu syadz karena hanya diriwayatkan oleh satu orang rawi dan tidak ada hadits lain yang menguatkannya. Dan juga shalat tasbih berbeda gerakannya dengan shalat-shalat yang lain.

Dalam kitab-kitab fiqih mazhab Hanafiyah dan Malikiyah tidak pernah disebutkan perihal shalat tasbih ini kecuali dalam Talkhis Al-Habir dari Ibnul Arabi bahwa beliau berpendapat tidak ada hadits shahih maupun hasan yang menjelaskan tentang shalat tasbih ini.

Oleh karena ada perbedaan pendapat mengenai ada tidaknya shalat tasbih tersebut, maka semuanya dikembalikan kepada pembaca, silahkan mengikuti pendapat yang mana, tentunya sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan pembaca sekalian.
****


※
Nb: tuk sobat semuanya yang belum menjadi fan page saya silahkan klik like DISINI dan jangan lupa kunjungi juga situs web saya di Kuningan Asri
Wassalam Pembela Kebenaran

Rendah Hati

"Sesungguhnya Allahmewahyukan kepadaku agar kalian rendah hati hingga tidak ada seorang pun yang berbuat jahat atas yang lain dan tidak berbangga satu orang atas yang lain." (HR Abu Daud).

Rendah hati adalah mahkota orang-orang saleh, hiasan diri kaum mukmin sejati. Rendah hati adalah obat yang menyembuhkan kesombongan dan mematikan keangkuhan, mengerdilkan ketakaburan. Tak banyak orang yang mampu berlaku rendah hati karena ia memang sifat mulia yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang mulia, ia sikap terhormat yang hanya pantas disandang pada pundak orang-orang terhormat pula.

Dalam kerendahhatian itu terdapat kekuatan jiwa, karena pemilik dan pelakunya senantiasa mampu menjadikan hati dan pikirannya sebagai pengendali nafsu. Tak ada yang bisa didapatkan dari orang yang tidak rendah hati, kecuali yang bersangkutan akan dengan mudah menonjolkan kesombongan, memamerkan keangkuhan, menyematkan kecongkakan. Aura iblis dengan kentara dalam sikap dan perilakunya.

Dalam Alquran, Allah SWT berkali-kali mengingatkan umat manusia untuk tidak menyombongkan dirinya. Sebab, perbuatan sombong dan angkuh (tidak rendah hati), akan mencelakakan dirinya sendiri. "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri." (QS Luqman [31]: 18).

Kesombongan itu biasanya muncul dari berpikir komparatif negatif dengan orang lain. Sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Iblis yang mendapat laknat Allah, karena dia melakukan komparasi negatif tentang dirinya dengan Nabi Adam. Dengan beranggapan bahwa dirinya yang diciptakan dari api jauh lebih baik dari Adam yang Allah ciptakan dari tanah liat. Komparasi ini merusak paradigma seseorang karena dia akan menganggap dirinya lebih dari orang lain, merasa lebih utama dari yang lain, merasa lebih afdal dari sesamanya.

Allah memberikan jaminan kepada orang-orang yang rendah hati untuk mengangkat derajatnya, meneguhkan posisinya, meningkatkan kedudukannya. Ini semua tak lebih karena dalam rendah hati itu ada kasih yang bergelora pada orang lain, ada cinta yang membahana pada mereka sehingga dia beranggapan bahwa tidaklah pantas dirinya menganggap orang lain lebih tidak berharga, lebih rendah, dan tak bermakna.

Dalam sebuah hadis Rasulullahbersabda, "Tidaklah ada dalam tawadhu itu kecuali akan mengangkat derajat seorang hamba. Maka, rendah hatilah niscaya Allah akan mengangkat derajat kalian." (HR Ad-Dailami).
"Barang siapa rendah hati karena Allah, Allah akan angkat (kedudukannya)." (HR Ahmad dan Ibnu Majah).

Dan, Allah tentu akan memperlakukan orang yang berlaku sebaliknya, yang sombong akan Allah rendahkan derajatnya sebagaimana yang menimpa iblis yang durhaka pada Tuhannya. "Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu semua kepada Adam', lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata, 'Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah'?" (QS Al-Isra [17]: 61).
Lihat juga dalam surah al-Baqarah [2] ayat 34. Oleh karena itu, jadilah pribadi rendah hati agar hidup lebih berarti.

Lima Tutur Kata Bijak

Ada 5 Tutur Bijak

(1).Jika Anda benar, maka Anda tidak perlu marah; dan jika Anda salah, maka Anda tidak layak marah

(2).Sabar dengan Keluarga, itu namanya Cinta. Sabar dengan Orang Lain, itu namanya Respect. Sabar dengan Diri Sendiri, itulah Kepercayaan Diri.

(3).Jangan berpikir terlalu Keras mengenai masa lalu, hal itu membawa Air Mata. Jangan pula berpikir terlalu banyak mengenai masa depan, hal itu membawa Ketakutan. Hiduplah saat ini dgn senyuman, hal itu akan membawa Bahagia.

(4).Setiap Cobaan dalam hidup kita, bisa membuat kita lebih terpuruk atau lebih baik. Setiap masalah datang untuk membuat kita lebih berprestasi, atau hancur sama sekali. Pilihan ada di tangan kita, untuk menjadi seorang Pecundang atau Pemenang....!!!

(5).Temukan hati yang indah & tulus, bukan wajah yang Rupawan atau Menawan. Hal-hal yang Indah tidak Selalu Baik, namun.... Hal-hal yang Baik Selalu Indah...!!

HIKMAH SHOLAT DHUHA


Hikmah Sholat Dhuha


Sholat Dhuha hukumnya sunah muakkad. Oleh karenanya, siapa saja yg ingin memperoleh pahala dan keutamaannya silahkan mengerjakan dan tidaklah berdosa apabila meninggalkannya. Namun Rasulullah saw senantiasa mengerjakan sholat Dhuha.

Rasulullah adalah teladan utama dalam segala hal. Beliau tidak akan mewasiatkan atau memerintahkan sesuatu sebelum mengerjakannya.
Demikian pula dengan sholat Dhuha.

Menunaikan sholat Dhuha selain sebagai wujud kepatuhan kepada ALLAH dan Rasul-NYA, juga sebagai perwujudan syukur dan takwa kepada kepada ALLAH karena ALLAH Maha Hikmah. Apapun amal ibadah yang disyariatkan akan mengandung banyak keutamaan dan hikmah.

Dan di antara keutamaan dan hikmah dari sholat Dhuha adalah sebagai berikut :

1. Sholat Dhuha adalah Sedekah
Rasulullah bersabda,

Setiap ruas dari anggota tubuh di antara kalian pada pagi hari, harus dikeluarkan sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kebaikan adalah sedekah, dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat disepadankan dengan mengerjakan sholat Dhuha dua rakaat.
(HR. Muslim dari Abu Dzar)

Dalam diri manusia terdapat tiga ratus enam puluh ruas tulang, hendaklah ia mengeluarkan satu sedekah untuk setiap ruas itu. Para sahabat bertanya, "Siapa yang mampu mengerjakan hal tersebut wahai Nabi ALLAH?" Nabi berkata, "Dahak di masjid yang engkau pendam, suatu aral yang engkau singkirkan dari jalan. Jika kamu tidak mendapatkan sesuatu yang sepadan, cukuplah bagimu sholat Dhuha dua rakaat."
(HR. Abu Daud dan Ahmad dari Abu Buraidah)

2. Sholat Dhuha sebagai Investasi Amal Cadangan
Sholat adalah amal yang pertama kali diperhitungkan pada hari Kiamat. Sholat juga merupakan kunci semua amal kebaikan. Sholat sunah -termasuk- sholat Dhuha merupakan investasi atau amal cadangan yg dapat menyempurnakan sholat fardhu (wajib).

Rasulullah saw bersabda,
Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah sholatnya. Apabila benar (sholatnya) maka ia telah lulus dan beruntung, dan apabila rusak (sholatnya) maka ia akan kecewa dan rugi.
Jika terdapat kekurangan pada sholat wajibnya, maka ALLAH berfirman, "Perhatikanlah, jikalau hamba-KU mempunyai sholat sunah maka sempurnakanlah dengan sholat sunahnya sekedar apa yang menjadi kekurangan pada sholat wajibnya. Jika selesai urusan sholat, barulah amalan lainnya."
(HR. Ash-habus Sunan dari Abu Hurairah RA)

3. Ghanimah (Keuntungan) Yang Besar
Rasulullah bersabda,
Dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash, ia berkata, "Rasulullah saw mengirim pasukan perang. Lalu pasukan itu mendapatkan harta rampasan perang yang banyak dan cepat kembali (dari medan perang). Orang-orang pun (ramai) memperbincangkan cepat selesainya perang, banyaknya harta rampasan, dan cepat kembalinya mereka. Makam Rasulullah saw bersabda, "Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang lebih cepat selesai perangnya, lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan cepat kembali (dari meda perang)? (Yaitu) orang yang berwudhu kemudian menuju masjid untuk mengerjakan sholat sunah Dhuha. Dialah yang lebih cepat selesai perangnya, lebih banyak (memperoleh) harta rampasan, dan lebih cepat kembalinya."
(HR. Ahmad)

4. Dicukupi Kebutuhan Hidupnya
Orang yang gemar melaksanakan sholat Dhuha karena ALLAH, akan dberikan kelapangan rezeki oleh ALLAH. Rasulullah saw menjelaskan daam hadits Qudsi dari Abu Darda' bahwa ALLAH berfirman:

Wahai anak Adam, rukulah (sholatlah) karena AKU pada awal siang (sholat Dhuha) emapt rakaat, maka AKU akan mencukupi (kebutuhan)mu sampai sore.
(HR. Tirmidzi)

5. Pahala Haji dan Umrah
Rasulullah bersabda,
Barangsiapa yang sholat Shubuh berjamaah kemudian duduk berzikir untuk ALLAH sampai matahari terbit kemudian (dilanjutkan dengan) mengerjakan sholat Dhuha dua rakaat, maka baginya seperti pahala haji dan umrah, sepenuhnya, sepenuhnya, sepenuhnya.
(HR. Tirmidzi)

6. Diampuni Semua Dosanya Walau Sebanyak Buih di Laut
Rasulullah bersabda,
Barangsiapa yang menjaga sholat Dhuha, maka dosa-dosanya akan diampuni walau sebanyak buih di lautan.
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

7. Istana di Surga
ALLAH akan membangun istana di surga bagi orang yang gemar sholat Dhuha. Rasulullah bersabda,
Barangsiapa shalat Dhuha dua belas rakaat, maka ALLAH akan membangun istana dari emas di surga.
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Demikian beberapa keutamaan dan hikmah dari sholat Dhuha yang diambil dari hadits. Semoga menjadi motivas bagi kita semua agar lebih memperhatikan sholat Dhuha dan membiasakan sholat Dhuha.

♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣
♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬


Shalat Rebo Wekasan


Shalat Rebo Wekasan

Tata Cara Pelaksaanaan Shalat Sunat Lidaf'il Bala pada Hari Rabu Terakhir Bulan Shofar

Sholat Sunat Lidaf'il Bala Rabu Terakhir bulan Shofar dilaksanakan pada pagi hari setelah sholat Isyraq, Isti'adzah dan Istikharah.

Pelaksanaan sholat sunat Lidaf'il Bala diambil dari keterangan yang tercantum dalam kitab al-Jawahir al-Khomsi halaman 51-52. dilaksanakan pada pagi hari Rabu terakhir bulan Shofar, sebanyak 4 rakaat 2 kali salam. Niatnya :


Setiap rakaat ba'da fatihah membaca :

- Surat al-Kaustar 17 kali,
- Surat al-Ikhlash 5 kali,
- Surat al-Falaq dan an-Nas masing-masing 1 kali

Sebelum melaksanakan sholat membaca istighfar :

Abdi neda panghampura. Ka Gusti Allah nu Agung, Ka Gusti Allah nu Agung. Teu aya deui Pangeran. Anging Allah, Anging Allah, anu hurip anu jumeneng ku Anjeun. Abdi tobat ka Pangeran, Abdi tobat ka Pangeran, saperti abdi nganiaya. Teu ngamilik diri abdina pribadi. Teu ngamilik madhorotna. Teu ngamilik manfaatna. Teu ngamilik kana maotna. Teu ngamilik kana hirupna. Teu ngamilik pigelarna.

Saya memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Saya mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Tuhan yang hidup terus dan berdiri dengan sendiri-Nya. Saya mohon taubat selaku seorang hamba yang banyak berbuat dosa, yang tidak mempunyai daya upaya apa-apa untuk berbuat mudharat atau manfaat untuk mati atau hidup maupun bangkit nanti.

Do'a setelah shalat lidaf'il Bala:

Artinya : "Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dengan kalimat-Mu yang sempurna dari angin merah dan penyakit yang besar di jiwa, daging, tulang dan urat. Maha Suci Engkau apabila memutuskan sesuatu hanyalah berkata kepadanya, "Jadilah" maka "jadilah ia".

Diambil dari: Ponpes Suryalaya


♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub

Haid adalah salah satu najis yang menghalangi wanita untuk melaksanakan ibadah sholat dan puasa, maka setelah selesai haidh harus bersuci dengan cara yang lebih dikenal dengan sebutan mandi haid.
Agar ibadah kita diterima Allah maka dalam melaksanakan salah satu ajaran islam ini, kita harus melaksanakannya sesuai tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan Rasulullah telah menyebutkan tata cara mandi haid dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha bahwa Asma' binti Syakal Radhiyallahu 'Anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam tentang mandi haidh, maka beliau bersabda:
تَأْخُذُإِحْدَا كُنَّ مَائَهَا وَسِدْرَهَا فَتََطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُورَ أوْ تَبْلِغُ فِي الطُّهُورِ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُُهُ دَلْكًا شَدِ يْدًا حَتََّى تَبْلِغَ شُؤُونَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَصُبُّ عَلَيْهَا المَاءَ ثُمَّ تَأْخُذُ فِرْصَةً مُمَسَّكَةً فَتَطْهُرُ بِهَا قَالَتْ أسْمَاءُ كَيْفَ أتََطَهَّرُبِهَا قَالَ سُبْحَانَ الله ِتَطَهُّرِي بِهَا قَالَتْْ عَائِشَةُ كَأنَّهَا تُخْفِي ذَلِكَ تَتَبَّعِي بِهَا أثَرَالدَّمِ
"Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air dan sidrahnya (daun pohon bidara, atau boleh juga digunakan pengganti sidr seperti: sabun dan semacamnya-pent) kemudian dia bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian dia menuangkan air di atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat sehingga air sampai pada kulit kepalanya, kemudian dia menyiramkan air ke seluruh badannya, lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang diberi minyak wangi kasturi, kemudian dia bersuci dengannya. Maka Asma' berkata: "Bagaimana aku bersuci dengannya?" Beliau bersabda: "Maha Suci Allah" maka 'Aisyah berkata kepada Asma': "Engkau mengikuti (mengusap) bekas darah (dengan kain/kapas itu)."
Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha bahwa seorang wanita bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam tentang mandi dari haid. Maka beliau memerintahkannya tata cara bersuci, beliau bersabda:
تَأْخُذُ فِرْصَةً مِنْ مِسْكٍ فَتَطَهُّرُ بِهَا قَالَتْ كَيْفَ أَتَطَهُّرُ بِهَاقَالَ تَطَهَّرِي بِهَاسُبْحَانَ اللهِ.قَالَتْ عَائِشَةُ وَاجْتَذَبْتُهَا إِلَيَّ فَقُلْتُ تَتَبْعِي بِهَاأَثَرَا لدَّمِ
"Hendaklah dia mengambil sepotong kapas atau kain yang diberi minyak wangi kemudian bersucilah dengannya. Wanita itu berkata: "Bagaimana caranya aku bersuci dengannya?" Beliau bersabda: "Maha Suci Allah bersucilah!" Maka 'Aisyah menarik wanita itu kemudian berkata: "Ikutilah (usaplah) olehmu bekas darah itu dengannya(potongan kain/kapas)." (HR. Muslim: 332)
An-Nawawi rahimahullah berkata (1/628): "Jumhur ulama berkata (bekas darah) adalah farji (kemaluan)." Beliau berkata (1/627): "Diantara sunah bagi wanita yang mandi dari haid adalah mengambil minyak wangi kemudian menuangkan pada kapas, kain atau semacamnya, lalu memasukkannya ke dalam farjinya setelah selesai mandi, hal ini disukai juga bagi wanita-wanita yang nifas karena nifas adalah haid." (Dinukil dari Jami' Ahkaam an-Nisaa': 117juz: 1).
Syaikh Mushthafa Al-'Adawy berkata: "Wajib bagi wanita untuk memastikan sampainya air ke pangkal rambutnya pada waktu mandinya dari haidh baik dengan menguraikan jalinan rambut atau tidak.Apabila air tidak dapat sampai pada pangkal rambut kecuali dengan menguraikan jalinan rambut maka dia (wanita tersebut) menguraikannya-bukan karena menguraikan jalinan rambut adalah wajib-tetapi agar air dapat sampai ke pangkal rambutnya, Wallahu A'lam." (Dinukil dari Jami' Ahkaam An-Nisaa' hal: 121-122 juz: 1 cet: Daar As-Sunah).
Maka wajib bagi wanita apabila telah bersih dari haidh untuk mandi dengan membersihkan seluruh anggota badan; minimal dengan menyiramkan air ke seluruh badannya sampai ke pangkal rambutnya; dan yang lebih utama adalah dengan tata cara mandi yang terdapat dalam hadits Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ringkasnya sebagai berikut:
Wanita tersebut mengambil air dan sabunnya, kemudian berwudhu' dan membaguskan wudhu'nya.
Menyiramkan air ke atas kepalanya lalu menggosok-gosokkannya dengan kuat sehingga air dapat sampai pada tempat tumbuhnya rambut. Dalam hal ini tidak wajib baginya untuk menguraikan jalinan rambut kecuali apabila dengan menguraikan jalinan akan dapat membantu sampainya air ke tempat tumbuhnya rambut (kulit kepala).
Menyiramkan air ke badannya.
Mengambil secarik kain atau kapas(atau semisalnya) lalu diberi minyak wangi kasturi atau semisalnya kemudian mengusap bekas darah (farji) dengannya.
TATA CARA MANDI JUNUB BAGI WANITA
Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha, beliau berkata:
كُنَّاإِذَأَصَابَتْ إِحْدَانَاجَنَابَةٌأَخَذَتْ بِيَدَيْهَاثَلَاثًافَوْقَ رَأْسَهَا ثُمَََّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَاالْأيَْمَنِ وَبِيَدِهَااْلأُخْرَى عََََلَى شِقِّهَااْلأ يْسَرِ
"Kami ( istri-istri Nabi) apabila salah seorang diantara kami junub, maka dia mengambil (air) dengan kedua telapak tangannya tiga kali lalu menyiramkannya di atas kepalanya, kemudian dia mengambil air dengan satu tangannya lalu menyiramkannya ke bagian tubuh kanan dan dengan tangannya yang lain ke bagian tubuh yang kiri." (Hadits Shahih riwayat Bukhari: 277 dan Abu Dawud: 253)
Seorang wanita tidak wajib menguraikan (melepaskan) jalinan rambutnya ketika mandi karena junub, berdasarkan hadits berikut:
Dari Ummu Salamah Radhiyallahu 'Anha berkata:
قُاْتُ ياَرَسُولَ اللهِ إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضَفْرَرَأْسِي أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ:لاَإِنَّمَايَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيْنَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ مِنْ مَاءٍثُمََّ تُفِيْضِيْنَ عَلَى سَائِرِ جَسَادِكِ الماَءَ فَتَطْهُرِيْن
Aku (Ummu Salamah) berkata: "Wahai Rasulullah, aku adalah seorang wanita, aku menguatkan jalinan rambutku, maka apakah aku harus menguraikannya untuk mandi karena junub?" Beliau bersabda: "Tidak, cukup bagimu menuangkan air ke atas kepalamu tiga kali kemudian engkau mengguyurkan air ke badanmu, kemudian engkau bersuci." (Hadits Shahih riwayat Muslim, Abu Dawud: 251, an-Nasaai: 1/131, Tirmidzi:1/176, hadits: 105 dan dia berkata: "Hadits Hasan shahih," Ibnu Majah: 603)
Ringkasan tentang mandi junub bagi wanita adalah:
Seorang wanita mengambil airnya, kemudian berwudhu dan membaguskan wudhu'nya (dimulai dengan bagian yang kanan).
Menyiramkan air ke atas kepalanya tiga kali.
Menggosok-gosok kepalanya sehingga air sampai pada pangkal rambutnya.
Mengguyurkan air ke badan dimulai dengan bagian yang kanan kemudian bagian yang kiri.
Tidak wajib membuka jalinan rambut ketika mandi.
Tata cara mandi yang disebutkan itu tidaklah wajib, akan tetapi disukai karena diambil dari sejumlah hadits-hadits Rasululllah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Apabila dia mengurangi tata cara mandi sebagaimana yang disebutkan, dengan syarat air mengenai (menyirami) seluruh badannya, maka hal itu telah mencukupinya. Wallahu A'lam bish-shawab.
***

Shalat Istikharah untuk Menentukan Pilihan

SHALAT ISTIKHARAH

Shalat istikharah
dilaksanakan ketika
dihadapkan pada suatu
permasalah agar pilihan
kita mantap dan hati
kita merasa tenang
dengan apa yang kita
pilih. Shalat istikharah
dapat kita lakukan ketika akan
menentukan pilihan
pasangan hidup atau
perkara-perkara yang
lain.

Saudara dan saudariku
yang budiman,
pernikahan adalah
ikatan yang
mempertalikan antara
kedua pasangan suami-
isteri. Memperhatikan
supaya memilih isteri
atau suami yang tepat
adalah fase terpenting
dalam permulaan
pernikahan, dan dalam
hal ini diperlukan
kesungguhan yang
mendalam untuk mendapatkan suami atau isteri yang tepat dari segala aspeknya.
Siapa yang ingin ni'kah, hendaklah dia memilih
pendamping hidupnya dengan pilihan yang berlandaskan pengetahuan dan pemikiran yang kukuh serta sangat bersungguh-sungguh untuk beristikharah kepada Allah, sebagaimana diajarkan
oleh Rasulullah kepada
kita. Dalam hadits yang
diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Jabir ra, ia
menuturkan:

Rasulullah mengajarkan kepada kami istikharah dalam segala perkara sebagaimana beliau mengajarkan surat al-Qur-an:


إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ
بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ
رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ
الْفَرِيضَةِ ثُمَّ
لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي
أَسْتَخِيرُكَ
بِعِلْمِكَ
وَأَسْتَقْدِرُكَ
بِقُدْرَتِكَ
وَأَسْأَلُكَ مِنْ
فَضْلِكَ الْعَظِيمِ
فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا
أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا
أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ
الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ
كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا
الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي
دِينِي وَمَعِيشَتِي
وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ
قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي
وَآجِلِهِ فَيَسِّرْهُ لِي
ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ
وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ
أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ
لِي فِي دِينِي
وَمَعِيشَتِي وَعَاقِبَةِ
أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي
عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ
فَاصْرِفْهُ عَنِّي
وَاصْرِفْنِي عَنْهُ
وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ
حَيْثُ كَانَ ثُمَّ
أَرْضِنِي بِهِ قَالَ
وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ

.`

Jika salah seorang dari kalian menghendaki suatu perkara, maka shalatlah dua rakaat dari selain shalat fardhu, kemudian hendaklah mengucapkan:
'Ya Allah, aku beristikharah kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku meminta penilaian-Mu dengan kemampuan-Mu dan aku meminta kepada-Mu dari karunia-Mu yang sangat besar. Sesungguhnya Engkau kuasa sedangkan aku tidak kuasa, Engkau
mengetahui sedangkan
aku tidak mengetahui, dan Engkau Maha
mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Ya
Allah, jika Engkau mengetahui perkara ini lebih baik bagiku dalam urusan agamaku, kehidupanku, dan kesudahan urusanku - atau urusan dunia dan akhiratku-, maka putuskanlah dan mudahkanlah urusan ini untukku, kemudian
berkahilah untukku di
dalamnya. Ya Allah, jika Engkau mengetahui
bahwa itu buruk bagiku, baik dalam urusan agamaku, kehidupanku
maupun kesudahan
urusanku -atau urusan dunia dan akhiratku-
maka palingkanlah ia
dariku dan palingkanlah
aku darinya serta putuskanlah yang terbaik untukku di manapun berada, kemudian ridhailah aku dengannya.'
Dan
hendaklah is menyebutkan hajatnya.''
(HR. Bukhari, At-
Tirmidzi, An-Nasai dan
lainnya)

Di sini ada beberapa
perkara penting yang
wajib kita perhatikan:

Istikharah dilakukan
setelah menunaikan
shalat dua rakaat selain
shalat shalat fardhu
(Tahiyyatul Masjid, atau
setelah shalat sunnah
lainnya).
Do'a istikharah
dilakukan setelah
shalat, bukan di dalam
shalat.
Boleh mengulang-ulang
istikharah, karena ini
adalah do'a, dan
mengulang-ulang do'a
adalah dianjurkan.
Sebagian orang
menyangka bahwa
setelah melakukan
shalat Istikharah,
seseorang akan melihat
sesuatu dalam
mimpinya. Hal ini tidak
berdasar. Pada
prinsipnya, jika
seseorang telah
melakukan shalat
Istikharah, hatinya
menjadi tenang dengan
pilihannya, maka tujuan
istikharah telah
terpenuhi. Bukan seperti
yang diduga sebagian
orang bahwa jika
seseorang tidak
bermimpi, maka dia
harus mengulangi
istikharahnya lagi
hingga ia bermimpi.
Shalat Istikharah
hukumnya dianjurkan,
bukan wajib.
Ibnu `Umar
radhiallahu'anhuma
berkata: Seseorang
benar-benar
beristikharah kepada
Allah Ta'ala, lalu Dia
menjadikan baik
pilihannya itu, kemudian
dia kesal kepada Rabb-
nya, Namun tidak
berapa lama kemudian
dia melihat bahwa
kesudahan yang baik
telah dipilihkan
untuknya (oleh Allah).'

♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣
♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Arah Shalat Umat Islam


Arah Shalat Umat Islam

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika Rasulullah saw. shalat menghadap Baitul Maqdis (kiblatnya kaum Yahudi), beliau sering melihat ke arah langit menunggu perintah Allah, mengharapkan kiblat diarahkan ke Ka'bah atau Masjidil Haram.

Setelah turun Perintah Allah agar shalat menghadap Ka'bah (Q.S 2 al-Baqoroh: 144), kaum Yahudi dan Nasrani mengingkari perintah tersebut dan bertanya-tanya mengapa berpaling dari Baitul Maqdis.

Allah Ta'ala Menjawab dengan Fìrman-Nya: Orang-oran yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata, "Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah, "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi Petunjuk kepada siapa yang Dikendaki-Nya ke jalan lurus."
Ayat ini secara tegas menyatakan, bahwa seluruh alam adalah Kepunyaan Allah, dan Allah-lah yang Memberi petunjuk kepada "arah yang lurus".

Pengertian "arah yang lurus" ialah kiblat ke arah Masjidil Haram yang Ditetapkan oleh Allah swt. berdasarkan Hikmah dan Kebijaksanaan-Nya.

Al-Bukhari telah meriwayatkan sebuah Hadits yang bersumber dari al-Barra' bin 'Azib r.a., yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. shalat menghadap Baitul Maqdis selama enam belas atau tujuh belas bulan. Akan tetapi, Beliau saw. sangat menginginkan arah kiblat berpindah ke Ka'bah. Ketika perintah peralihan arah kiblat turun (Q.S 2 al-Baqarah: 144) maka shalat Asar adalah shalat yang pertama dilakukan dengan arah kiblat ke Ka'bah, yang kemudian di ikuti oleh beberapa orang shahabat. Setelah itu keluarlah salah seorang di antara shahabat yang ikut bersama Rasulullah saw., tiba-tiba ia melihat dalm suatu masjid orang-orang sedang ruku dengan menghadap Baitul Maqdis. Maka ia pun berseru kepada mereka, "Demi Allah, aku bersaksi bahwa aku telah shalat bersama Nabi saw. dengan menghadap Ka'bah di Mekah." Mendengar seruan ini maka orang-orang yang sedang shalat itu pun langsung memutar tubuh sehingga shalatnya menghadap ke arah Ka'bah.

Kiblat secara bahasa berarti arah; maksudnya, arah bagi setiap Muslim dalam melakukan shalat. Kiblat umat Islam ialah Ka'bah yang terletak di kota suci Mekah.

Pada hakikatnya kiblat merupakan titik yang menyatukan arah segenap umat Islam dalm melaksanakan shalat. Akan tetapi, harus dipahami bahwa titik arah itu sendiri bukanlah objek yang disemabah oleh kaum Muslimin. Hanya Allah swt. yang menjadi tujuan dalam pelaksanaan shalat. Oleh karenanya, umat Islam bukan menyembah Ka'bah, tetapi menyembah Allah swt.

Semua imam mujtahid telah sepakat, bahwa menghadap kiblat ketika shalat adalah wajib dan merupakan syarat sahnya shalat. Wallahu 'Alam

♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣
♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣♣
▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬