Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jum'at. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah Jum'at. Tampilkan semua postingan

MENELADANI KHALIFAH IV ALI BIN ABI THALIB [i]radhiyallahu 'anhu

Oleh: Musthafa Aini, Lc.
KHUTBAH PERTAMA:
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Hadirin Kaum Muslimin, Jama'ah Shalat Jum'at Sekalian
Melalui mimbar Jum'at ini, kami selaku khatib mengajak kepada diri kami khususnya dan kepada para jamaah sekalian pada umumnya, mari kita senantiasa bertakwa kepada Allah Ta'ala, meningkatkan kualitas iman dan ibadah kita kepadaNya dan berpegang teguh kepada kitab suci al-Qur`an dan Sunnah Nabi kita, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Semoga shalawat dan salam selalu Allah limpahkan kepada panutan dan teladan kita, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya serta segenap para pengikutnya yang setia kepada sunnahnya hingga Hari Kiamat kelak.
Hadirin Kaum Muslimin, Para Tamu Allah Ta'ala
Kita kaum Muslimin tentu mengenal sebutan al-Khulafa ar-Rasyidun, namun tidak sedikit yang masih awam terhadap mereka apalagi mengenalnya secara terperinci atau detail. Padahal mengenal kepribadian dan sejarah hidup mereka sangat penting, sebab Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengeluarkan wasiat kepada umatnya, termasuk kita, agar tetap berpegang teguh kepada ٍSunnah beliau dan Sunnah al-Khulafa' ar-Rasyidun di tengah-tengah banyaknya pertikaian, perselisihan, dan fitnah, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab Sunannya dari al-`Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, beliau menuturkan,
صَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ ذَاتَ يَوْمٍ، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيْغَةً، ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ كَأَنَّ هٰذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا؟ فَقَالَ: أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ، وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِيْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
"Pada suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat bersama kami lalu berbalik arah menghadap kepada kami. Kemudian beliau memberikan satu mau'izhah (nasihat atau pesan) yang membuat air mata berlinang dan hati menjadi takut. Maka salah seorang berkata, 'Ya Rasulullah, sepertinya ini adalah nasihat perpisahan. Lalu apa yang engkau pesankan kepada kami?' Beliau bersabda, 'Aku berpesan kepada kalian untuk selalu tetap bertakwa kepada Allah, mendengar dan patuh (kepada pemimpin), sekalipun ia berasal dari hamba berkebangsaan Etiopia (berkulit hitam). Sebab, siapa saja yang hidup sepeninggalan-ku nanti akan menjumpai banyak perselisihan. Maka hendaknya kalian tetap berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah para Khulafa' Rasyidin yang telah mendapat petunjuk, berpeganglah kepadanya dan gigitlah ia erat-erat dengan geraham kalian. Dan waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru (yang diada-adakan), karena setiap perkara baru itu bid'ah dan setiap bid'ah itu adalah kesesatan."
Hadirin, Jamaah Shalat Jum'at Sekalian
Untuk itu mari pada kesempatan ini kita mengenali secara singkat salah satu dari empat Khulafa' itu, yaitu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, khalifah keempat.
Nama dan Nasab beliau:
Beliau adalah Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim. Abu Thalib adalah saudara kandung Abdullah bin Abdul Muththalib, ayah baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Jadi Ali bin Abi Thalib adalah saudara sepupu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau dijuluki Abul Hasan dan Abu Turab.
Semenjak kecil beliau hidup diasuh oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, karena ayahnya terlalu banyak beban dan tugas yang sangat banyak dan juga banyak keluarga yang harus dinafkahi, sedangkan Abu Thalib hanya memiliki sedikit harta semenjak Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masih anak-anak.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengasuhnya sebagai balas budi terhadap pamannya, Abu Thalib yang telah mengasuh beliau ketika beliau tidak punya bapak dan ibu serta kehilangan kakek tercintanya, Abdul Muththalib.
Hadirin Jamaah Shalat Jum'at, yang Berbahagia
Ali bin Abi Thalib masuk Islam:
Mayoritas ahli sejarah Islam menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah orang kedua yang masuk Islam setelah Khadijah radhiyallahu 'anha, di mana usia beliau saat itu masih berkisar antara 10 dan 11 tahun. Ini adalah suatu kehormatan dan kemuliaan bagi beliau, di mana beliau hidup bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan terdepan memeluk Islam. Bahkan beliau adalah orang pertama yang melakukan shalat berjamaah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana ditulis oleh al-Askari (penulis kitab al-Awa`il).
Sifat fisik dan kepribadian beliau:
Beliau adalah sosok yang memiliki tubuh yang kekar dan lebar, padat berisi dengan postur tubuh yang tidak tinggi, perut besar, warna kulit sawo matang, berjenggot tebal berwarna putih seperti kapas, kedua matanya sangat tajam, murah senyum, berwajah tam-pan, dan memiliki gigi yang bagus, dan bila berjalan sangat cepat.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah sosok manusia yang hidup zuhud dan sederhana, memakai pakaian seadanya dan tidak terikat dengan corak atau warna tertentu. Pakaian beliau berbentuk sarung yang tersimpul di atas pusat dan menggantung sampai setengah betis, dan pada bagian atas tubuh beliau adalah rida' (selendang) dan bahkan pakaian bagian atas beliau bertambal. Beliau juga selalu mengenakan kopiah putih buatan Mesir yang dililit dengan surban.
Ali bin Abi Thalib juga suka memasuki pasar, menyuruh para pedagang bertakwa kepada Allah dan menjual dengan cara yang ma`ruf.
Beliau menikahi Fatimah az-Zahra putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan dikarunia dua orang putra, yaitu al-Hasan dan al-Husain.
Hadirian, Jamaah Shalat Jum'at yang Berbahagia
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu adalah sosok pejuang yang pemberani dan heroik, pantang mundur, tidak pernah takut mati dalam membela dan menegakkan kebenaran. Keberanian beliau dicatat di dalam sejarah, sebagai berikut:
a) Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ingin berhijrah ke Madinah pada saat rumah beliau dikepung di malam hari oleh sekelompok pemuda dari berbagai utusan kabilah Arab untuk membunuh Nabi, Nabi menyuruh Ali bin Abi Thalib shallallahu 'alaihi wasallam tidur di tempat tidur beliau dengan mengenakan selimut milik beliau. Di sini Ali bin Abi Thalib benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dengan penuh tawakal kepada Allah Ta'ala.
Keesokan harinya, Ali disuruh menunjukkan keberadaan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, namun beliau menjawab tidak tahu, karena beliau hanya disuruh untuk tidur di tempat tidurnya. Lalu beliau disiksa dan digiring ke Masjidil Haram dan di situ beliau ditahan beberapa saat, lalu dilepas.
b) Beliau kemudian pergi berhijrah ke Madinah dengan berjalan kaki sendirian, menempuh jarak yang sangat jauh tanpa alas kaki, sehingga kedua kakinya bengkak dan penuh luka-luka setibanya di Madinah.
c) Ali bin Abi Thalib terlibat dalam semua peperangan di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, selain perang Tabuk, karena saat itu beliau ditugasi menjaga kota Madinah. Di dalam peperangan-peperangan tersebut beliau sering kali ditugasi melakukan perang tanding (duel) sebelum peperangan sesungguhnya dimulai. Dan semua musuh beliau berhasil dilumpuhkan dan tewas. Dan beliau juga menjadi pemegang panji Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Hadirin Jamaah Shalat Jum'at yang Berbahagia
Keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiayallahu 'anhu:
Keutamaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sangat banyak sekali. Selain yang telah disebutkan di atas, masih banyak lagi keutamaan dan keistimewaan beliau. Berikut ini di antaranya:
Ali adalah manusia yang benar-benar dicintai Allah dan RasulNya.
Pada waktu perang Khaibar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Bendera ini sungguh akan saya berikan kepada seseorang yang Allah memberikan kemenangan melalui dia, dia mencintai Allah dan RasulNya, dan dia dicintai Allah dan RasulNya." Maka pada malam harinya, para sahabat ribut membicarakan siapa di antara mereka yang akan mendapat kehormatan membawa bendera tersebut. Dan keesokan harinya para sahabat datang menuju Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, masing-masing berharap diserahi bendera. Namun beliau bersabda, "Mana Ali bin Abi Thalib?" Mereka menjawab, "Matanya sakit, ya Rasulullah." Lalu Rasulullah menyuruh untuk menjemputnya dan Ali pun datang. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyemburkan ludahnya kepada kedua mata Ali dan mendoakannya. Dan Ali pun sembuh seakan-akan tidak pernah terkena penyakit. Lalu beliau memberikan bendera kepadanya. Ali berkata, "Ya Rasulullah, aku memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita." Beliau menjawab, "Majulah dengan tenang sampai kamu tiba di tempat mereka, kemudian ajaklah mereka masuk Islam dan sampaikan kepada mereka hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, sekiranya Allah memberikan hidayah kepada seorang manusia melalui dirimu, sungguh lebih baik bagimu dari pada unta-unta merah." (HR. Muslim, no. 2406).
Jiwa juang Ali sangat melekat di dalam kalbunya, sehingga ketika Rasulullah ingin berangkat pada perang Tabuk dan memerintah Ali agar menjaga Madinah, Ali merasa keberatan sehingga mengatakan, "Apakah engkau meninggalkan aku bersama kaum perempuan dan anak-anak?"
Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam justru menunjukkan kedudukan Ali yang sangat tinggi seraya bersabda, "Apakah engkau tidak ridha kalau kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada kenabian sesudahku." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Beliau juga adalah salah satu dari sepuluh orang yang telah mendapat "busyra biljannah" (berita gembira sebagai penghuni surga), sebagaimana dinyatakan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam al-Mustadrak.
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menyatakan kepada Ali radhiyallahu 'anhu, "bahwa tidak ada yang mencintainya kecuali seorang Mukmin dan tidak ada yang membencinya, kecuali orang munafik." (HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga pernah bersabda kepada Ali radhiyallahu 'anhu,
أَنْتَ مِنِّيْ وَأَنَا مِنْكَ.
"Engkau adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darimu." (HR. al-Bukhari).
Beliau juga sangat dikenal dengan kepandaian dan ketepatan dalam memecahkan berbagai masalah yang sangat rumit sekalipun, dan beliau juga seorang yang memiliki `abqariyah qadha'iyah (kejeniusan dalam pemecahan ketetapan hukum) dan dikenal sangat dalam ilmunya. (Lihat: Aqidah Ahlussunnah fi ash-Shahabah, jilid I, halaman 283).
Hadirin Jamaah Shalat Jum'at yang Berbahagia
Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah:
Ketika Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi khalifah keempat, situasi dan suasana kota Madinah sangat mencekam, dikuasai oleh para pemberontak yang telah menodai tanah suci Madinah dengan melakukan pembunuhan secara keji terhadap Khalifah ketiga, Uts-man bin 'Affan radhiyallahu 'anhu.
Ali bin Abi Thalib dalam pemerintahannya benar-benar menghadapi dilema besar yang sangat rumit, yaitu:
1) Kaum pemberontak yang jumlahnya sangat banyak dan menguasai Madinah.
2) Terbentuknya kubu penuntut penegakan hukum terhadap para pemberontak yang telah membunuh Utsman bin 'Affan, yang kemudian melahirkan perang saudara, perang Jamal dan Shiffin.
3) Kaum Khawarij yang dahulunya adalah para pendukung dan pembela beliau kemudian berbalik memerangi beliau.
Namun dengan kearifan dan kejeniusan beliau dalam menyikapi berbagai situasi dan mengambil keputusan, beliau dapat mengakhiri pertumpahan darah itu melalui albitrasi (tahkim), sekalipun umat Islam pada saat itu masih belum bersatu secara penuh.
Hadirin Sekalian
Abdurrahman bin Muljam, salah seorang pentolan Khawarij memendam api kebencian terhadap Ali bin Abi Thalib, karena dianggap telah menghabisi rekan-rekannya yang seakidah, yaitu kaum Khawarij di Nahrawan. Maka dari itu ia melakukan makar bersama dua orang rekannya yang lain, yaitu al-Barak bin Abdullah dan Amr bin Bakar at-Tamimi, untuk menghabisi Ali, Mu'awiyah dan Amr bin al-'Ash, karena dia anggap sebagai biang keladi pertumpahan darah.
Al-Barak dan Amr gagal membunuh Mu'awiyah dan Amr bin al-'Ash, sedangkan Ibnu Muljam berhasil mendaratkan pedangnya di kepala Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib, pada dini hari Jum'at, 17Ramadhan, tahun 40 H. dan beliau wafat keesokan hari-nya.
Hadirin Sekalian
Demikianlah secara singkat perjalanan hidup Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu semoga kita dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya..
فَاسْتَبِقُواْ الْخَيْرَاتِ أَقُوْلُ قَوْلِي هَذا أَسْتَغْفِرُ اللهَ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Hadirin Sekalin, Jamaah yang Berbahagia
Berani menegakkan kebenaran dan menyampaikan yang hak dengan hikmah dan mau`izhah hasanah adalah sifat dasar seseorang yang beriman. Maka mari kita tancapkan sedalam-dalamnya karakter takwa kepada Allah Ta'ala, dengan senantiasa kembali dan berpegang teguh kepada al-Qur`an dan Hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, istiqamah di jalan tauhid dan ittiba` (mengikuti) sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Dan bershalawatlah untuk Nabi kita, Muhammad, sebab Allah Ta'ala telah memerintahkannya di dalam kitab suci al-Qur`an,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
"Sesungguhnya Allah dan para malaikatNya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan sampaikanlah salam atasnya." (Al-Ahzab: 56).
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.
(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum'at

MENELADANI KHALIFAH III UTSMAN BIN AFFAN RADHIYALLAHU 'ANHU

Oleh: Musthafa Aini, Lc.
KHUTBAH PERTAMA
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Para Hadirin, Jama'ah Shalat Jum'at Sekalian
Pada kesempatan yang mulia ini, kami selaku khatib berpesan kepada diri kami sendiri dan kepada para Jama'ah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan dan kualitas ibadah kita kepada Allah Ta'ala, dengan cara sering dan selalu menghadiri majelis-majelis ilmu dan mengamalkan dengan tulus dan ikhlas ilmu-ilmu yang telah kita pelajari itu. Sebab hanya dengan cara seperti itulah keri-dhaan Allah dan rahmatNya makin mudah kita raih, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Para Hadirin Kaum Muslimin yang Berbahagia
Allah Ta'ala di dalam al-Qur`an al-Karim menyebutkan banyak sekali sejarah atau kisah-kisah umat-umat terdahulu dan para rasul beserta para pengikutnya, agar kita yang membacanya mendapat-kan ibrah dan pelajaran berharga darinya, sebagaimana Allah Ta'ala firmankan,
َقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ
"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal." (Yusuf: 111).
Sejarah Nabi kita, nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya pun bila dibaca dan dihayati dengan seksama sangat sarat dengan ibrah dan pelajaran yang patut kita teladani. Bahkan di antara para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam itu pun ada sosok-sosok manusia yang istimewa karena iman, takwa, ibadah, pengorbanan, jihad, infak fi sabilillah, zuhud, dan amal-amal kebajikan lainnya yang mereka kerjakan, sehingga di antara mereka ada yang telah mendapat kabar gem-bira dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu busyra biljannah atau "kabar gembira menjadi ahli surga". Di antara sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang telah mendapatkan busyra biljannah itu adalah Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dan imam Muslim, dari sumber hadits Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dia meriwayatkan, bahwa pada suatu hari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam memasuki suatu kebun, dan beliau menyuruhnya untuk menjaga pintu kebun tersebut. Dan ternyata datanglah seseorang dan minta izin (agar diperbolehkan masuk). Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
اِئْذَنْ لَهُ وَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ.
"Izinkan ia, dan sampaikanlah kabar gembira padanya, dengan surga."
Ternyata orang itu adalah Abu Bakar. Lalu datang lagi orang lain dan juga minta izin. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,"Izinkan dia, dan sampaikanlah kabar gembira kepadanya dengan surga."
Dan ternyata orang itu adalah Umar bin al-Khaththab. Lalu datang lagi orang ketiga, juga meminta izin. Namun Nabi shallallahu 'alaihi wasallam diam sejenak, lalu bersabda, "Izinkan ia, dan sampaikanlah kabar gembira padanya dengan surga di atas bala (bencana) yang menimpanya." Dan ternyata orang itu adalah Utsman bin 'Affan.
Hadirin, Jama'ah Shalat Jum'at yang Berbahagia
Yang perlu kita pertanyakan di sini adalah, kenapa dan bagaimana Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu sampai memperoleh "busyra" atau berita gembira seperti itu?
Inilah yang akan kita ungkap pada kesempatan khutbah kali ini, agar kita bisa mengambil hikmahnya.
Hadirin, Jama'ah Shalat Jum'at yang Berbahagia,
Nasab beliau:
a) Dari pihak silsilah nasab ayahnya, Utsman bin 'Affan bertemu dengan silsilah nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada Abdi Manaf.
b) Dari pihak ibunya, ibunya Arwa binti Kuraiz, yaitu putri dari Ummu Hukaim al-Baidha' binti Abdul Muththalib, saudari kandung ayah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu Abdullah bin Abdul Muththalib.
Beliau masuk Islam:
Beliau termasuk as-Sabiqun al-Awwalun, termasuk golongan orang-orang yang pertama masuk Islam, bahkan beliau adalah orang laki-laki keempat yang masuk Islam, setelah Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah dan Abu Bakar radhiyallahu 'anhu. Beliau masuk Islam melalui ajakan Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu.
Ciri-ciri fisik beliau:
Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu adalah seorang lelaki yang berperawakan sedang, tegap dan lebar, berkulit putih kemerah-merahan dengan wajah yang cukup tampan dan manis. Beliau juga berjenggot tebal, dan berambut keriting. Siapa saja yang melihatnya akan terpesona karena ketampanannya.
Hadirin, Jama'ah Shalat Jum'at, yang Berbahagia
Sifat-sifat kepribadian beliau:
Beliau adalah sosok manusia yang sangat pemalu, sehingga segan untuk berbicara. Namun apabila beliau berbicara, maka ucapan dan pembicaraan beliau sangat indah dan tepat, sehingga Abdur-rahman bin Hathib mengatakan, "Saya tidak pernah melihat seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang apabila berbicara lebih indah bahasanya dan lebih baik tutur katanya daripada Utsman bin 'Affan, hanya saja be-liau adalah tipe lelaki yang takut berbicara." (Thabaqat Ibnu Sa'ad).
Akan tetapi, jika beliau telah berbulat tekad melakukan sesuatu, tidak seorang pun yang dapat menghalanginya, dan beliau sama sekali tidak takut mati dalam menghadapi kematian. Ini terbukti pada saat beliau dibujuk dan dipaksa untuk melepaskan jabatannya sebagai "khalifah", beliau mengatakan kepada para pemberontak "Saya tidak akan menanggalkan pakaian yang telah Allah pakaikan kepadaku, akan tetapi saya hanya menanggalkan apa yang kalian tidak suka". (Thabaqat Ibnu Sa'ad: 3/66).
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga telah bersabda, "Orang yang benar-benar pemalu di antara umatku adalah Utsman." (Ibnu Sa'ad: 3/60).
Dan beliau juga bersabda tentang Utsman bin 'Affan, "Ketahuilah, aku malu kepada seorang lelaki yang para malaikat malu kepadanya." (Muttafaq 'alaih).
Ungkapan ini beliau ucapkan kepada istrinya, Aisyah yang bertanya kepada beliau, "Kenapa ketika Abu Bakar masuk, dan kemudian Umar masuk, engkau tetap seperti keadaan semula, tidak menutup pahamu yang terbuka, sedangkan ketika Utsman masuk malah engkau menutupnya?" Beliau menjawab, "Ketahuilah, aku malu kepada lelaki yang para malaikat pun malu kepadanya."
Ibadah beliau:
Hadirin, Jama'ah Shalat Jum'at, yang Berbahagia
Utsman bin 'Affan adalah sosok hamba Allah yang benar-benar patuh dan taat kepada Allah dan RasulNya, beliau adalah manusia yang sangat merindukan keridhaan Allah Ta'ala. Sikap beliau ini tampak dari perjalanan hidup beliau setelah masuk Islam.
Beliau adalah orang pertama yang berhijrah bersama keluarganya ke Habasyah (Etiopia) lalu ke Madinah, karena memenuhi perintah Allah dan RasulNya. Bahkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda mengenai hal ini, "Mereka berdua (Utsman dan istrinya) disertai oleh Allah, dan sesungguhnya Utsman adalah orang pertama yang berhijrah kepada Allah bersama istrinya sesudah Nabi Luth." (Tarikh al-Khulafa`, karya as-Suyu-thi, hal. 151).
Beliau adalah salah seorang sahabat Nabi yang hafal al-Qur`an di luar kepala. Dan ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau menamatkan al-Qur`an dalam satu malam pada saat shalat tahajjud. Bahkan disebutkan pula bahwa beliau selalu mengkhatamkan bacaan al-Qur`an di bulan suci Ramadhan tiga hari satu kali khatam.
Beliau juga adalah hamba Allah Ta'ala yang suka melakukan shaum (puasa), bahkan pada saat beliau dikepung oleh para pemberontak di kediamannya di Madinah dan beliau dibunuh dengan cara mengenaskan, beliau dalam keadaan berpuasa.
Kedermawanan beliau:
Utsman bin 'Affan adalah salah satu hamba Allah yang berkecukupan dan diberi kemudahan mendapat rizki, sehingga beliau dikenal sebagai salah seorang sahabat Nabi yang cukup kaya harta. Namun beliau tidak terlena dengan kekayaan tersebut. Beliau justru menjadikan kekayaannya sebagai sarana untuk mencari keridhaan Allah dan RasulNya. Maka dari itu, beliau dikenal sangat dermawan, suka berinfak fi sabilillah. Sebagai contohnya:
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berhijrah bersama para sahabatnya ke Madinah, di sana mereka kesulitan untuk mendapatkan air minum. Dan yang ada saat itu hanya sumur milik seorang dari Bani Ghifar, yang dikenal dengan sumur Rumah. Lelaki itu menjual airnya satu qirbah (galon sedang) dengan satu mud (kurma atau gandum). Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta untuk memberikannya kepada kaum Muslimin dengan imbalan satu sumur di surga. Namun orang itu mengatakan, "Saya tidak punya apa-apa lagi selain sumur ini." Dan ketika berita ini sampai kepada Utsman, maka beliau segera membelinya dengan harga 35.000 dirham, harga yang sangat tinggi saat itu. Lalu beliau datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, dan mengatakan, "Apakah engkau janjikan untukku pada sumur tersebut sebagaimana yang engkau janjikan pada orang itu?" Nabi menjawab, "Ya". Dan Utsman mewakafkan sumur tersebut. (Fath al-Bari: 5/407-408).
Ketika kaum Muslimin berada dalam masa paceklik, sementara mereka harus berjihad fi sabilillah, dan tidak ada perbekalan (logistik) yang cukup untuk itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menghimbau para sahabatnya untuk mendermakan hartanya. Maka Utsman bin 'Affan bangkit dan mengatakan, "Ya Rasulullah, saya menanggung 300 ekor unta dengan segala perlengkapan di atasnya." (HR. at-Tirmidzi).
Di dalam riwayat Ahmad disebutkan, bahwa beliau mendermakan sebanyak 1000 dinar yang beliau bungkus dalam ikatan kainnya lalu meletakkannya di pangkuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ.
"Tidak membahayakan bagi Utsman apa yang dia kerjakan setelah hari ini." Beliau mengucapkannya berulang-ulang.
Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ingin memperluas wilayah Masjid Nabawi, Utsman bin Affan-lah yang membebaskan tanahnya dan membelinya kepada pemiliknya dengan harga 25.000 dirham (riwayat an-Nasa`i).
Beliau juga selalu menginfakkan hartanya kepada kaum kerabatnya dan juga suka membebaskan hutang orang yang berhutang kepada beliau. Dan beliau juga selalu menebus kemerdekaan budak sahaya setiap Jum'at. (Lihat lebih lanjut di Aqidah Ahlus-sunnah fi ash-Shahabah: 259-274).
Hadirin, Kaum Muslimin Sekalian
Jihad dan perjuangan beliau:
Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang mujahid yang selalu ikut serta di dalam perjuangan dan peperangan untuk menegakkan kalimatullah. Beliau terlibat langsung dalam perang Khandaq dan Hudaibiyah, Khaibar, Fathu Makkah dan lain-lain. Bahkan sumpah setia yang dikenal dengan "Bai`at ar-Ridhwan" dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karena Utsman bin 'Affan.
Ketika beliau menjadi khalifah, beliau mengirimkan pasukan-nya untuk melanjutkan perjuangan menegakkan agama Allah Ta'ala, dan pada masa pemerintahan beliau banyak wilayah-wilayah di belahan bumi yang ditaklukkan, seperti Armania, Afrika, Qubrus, negeri bangsa Turki dan lain-lain.
Hadirian, Kaum Muslimin Sekalian
Serba-serbi mengenai keutamaan beliau:
Tidak hanya itu keutamaan Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu. Masih banyak lagi yang belum disebutkan, yang di antaranya saja:
Beliau termasuk ke dalam barisan syuhada'. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mendaki gunung uhud bersama Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Tiba-tiba gunung uhud bergetar, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ber-sabda, "Diamlah (tenanglah) wahai uhud, karena sesungguhnya di atasmu hanyalah seorang Nabi, shiddiq, dan dua orang syahid."
Beliau adalah manusia satu-satunya yang menikahi dua putri Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum. Ketika Ruqayyah radhiyallahu 'anha wafat, Nabi menikahkan Utsman dengan putrinya Ummi Kultsum. Dan setelah ummu Kultsum wafat, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Kalau seandainya aku masih punya anak perempuan yang lain niscaya akan aku nikahkan kamu dengannya."
Karena pernikahan dengan dua putri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam inilah Utsman dijuluki "Dzun Nurain" (pemilik dua cahaya).
Beliau juga adalah salah satu dari empat Khulafa` Rasyidin, yang wajib dipatuhi dan diteladani. Menurut pendapat yang rajih di kalangan ulama Ahlus Sunnah wa al-Jama'ah bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu menduduki urutan ketiga sebagai manusia terbaik dan paling utama setelah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu 'anhuma.
Semoga kita semua pandai memetik ibrah dan hikmah dari para pendahulu kita yang shalihin.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Setiap Muslim wajib menjadi seorang Muslim sejati yang ber-pegang teguh kepada kitab sucinya, yaitu al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta mempelajari sejarah dan perjalanan hidup Nabinya dan para sahabatnya, juga mempelajari sejarah para ulama pendahulunya, agar kecintaan kepada mereka makin tumbuh di dalam hati, dan agar bisa meneladani mereka dalam mengarungi kehidupan dunia ini.
Apabila seorang Muslim semakin mengetahui sifat-sifat terpuji para pendahulunya, perbuatan-perbuatan, dan amal shalih yang telah mereka lakukan, seperti kepatuhan mereka kepada Allah dan RasulNya, kezuhudan mereka, perjuangan mereka yang telah mengukir sejarah, kepahlawanan mereka fi sabilillah dan budi pekerti nan luhur yang menjadi daya tarik bagi orang-orang kafir untuk masuk Islam, maka dorongan untuk meneladani mereka semakin kuat di dalam jiwa kita.
Hadirin Jama'ah Shalat Jum'at yang Berbahagia
Marilah, sebelum kita menghadap kepada Allah menunaikan Shalat Jum'at, kita bermunajat dan merendahkan diri kepadaNya memohon kebaikan dunia dan akhirat kita,
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.
(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum'at

ZAMAN GEMILANG SAHABAT

Oleh: Izzudin Karimi, Lc.
KHUTBAH PERTAMA
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Para Hadirin, Jama'ah Shalat Jum'at Sekalian
Allah Ta'ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dengan risalah tauhid dan agama yang benar. Risalah dan agama yang dibawa oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersifat universal, artinya ia berlaku untuk seluruh umat manusia di dunia tanpa tersekat oleh tempat dan waktu, dan ini merupakan salah satu ciri khas risalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Di samping hal ini telah dinyatakan oleh Allah dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri, ia juga dibuktikan oleh kenyataan bahwa tidak ada wilayah di bumi ini, kecuali ia telah terjangkau oleh Islam, agama Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
وَبُعِثْتُ إِلى النَّـاسِ عَامَّةً.
"Dan aku diutus kepada manusia seluruhnya." (HR. al-Bukhari dari Jabir bin Abdullah, no. 335).
Meskipun risalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam bersifat universal, tidak berarti dan tidak harus Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sendiri yang membawa dan menyampaikannya dengan berkeliling dunia dari satu daerah ke daerah lainnya, tanpa beliau berkeliling ke penjuru dunia, Islam telah benar-benar memayungi seluruh wilayah bumi, hal ini karena Islam mempunyai orang-orang yang memiliki semangat sangat tinggi dalam menyampaikan (risalah) dan berdakwah, dan di barisan terdepan orang-orang tersebut adalah sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kepada mereka inilah pertama kali Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menanamkan semangat untuk menyampaikan (risalah). Di haji Wada' di hari penyembe-lihan (hewan kurban), Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menegaskan kembali dorongannya kepada para sahabat untuk menyampaikan (risalah), Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ.
"Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada orang yang tidak hadir." (HR. al-Bukhari dari Abu Bakrah, no. 67).
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Para sahabat inilah yang menjadi perantara antara Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan umat, tanpa perantaraan mereka (dengan izin Allah), umat tidak akan mengetahui ajaran dan tuntunan Nabinya shallallahu 'alaihi wasallam. Sebuah jasa besar yang tidak akan tertandingi oleh generasi apa pun dan kapan pun dari umat ini. Seandainya hal tersebut merupakan jasa mereka satu-satunya, maka ia lebih dari cukup untuk dijadikan alasan bagi umat ini untuk menghormati, menghargai, memuliakan, dan mendoakan "Semoga Allah meridhai mereka", sekaligus menjadi alasan bagi umat ini untuk tidak mencela, mencaci, dan menjelek-jelekkan mereka, sebab sikap ini merupakan bukti tidak adanya rasa berterima kasih kepada mereka dan kejahilan terhadap kebaikan-kebaikan mereka. Tidak sedikit ayat-ayat al-Qur`an di mana di dalam surat tersebut Allah Ta'ala menyanjung mereka, salah satunya adalah Firman Allah Ta'ala,
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengi-kuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalam-nya. Itulah kemenangan yang besar." (At-Taubah: 100).
Di samping itu, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah mewasiatkan kepada umat Islam agar menghargai jasa mereka dengan tidak mencela mereka. Sabda beliau shallallahu 'alaihi wasallam,
لَا تَسُبُّوْا أَصْحَابِيْ، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَـقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيْفَهُ.
"Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku, seandainya salah se-orang dari kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, maka (infaknya tersebut) tidak menandingi satu mud atau setengah mud (infak) salah seorang dari mereka." (Muttafaq alaihi, Mukhtashar Shahih al-Bukhari no. 1755, Mukhtashar Shahih Muslim no. 1746).
Emas sebesar Uhud dari kita tidak menandingi satu bahkan setengah mud salah seorang dari mereka. Sebuah perbandingan yang boleh dikatakan antara langit dan bumi. Hal itu tidaklah aneh dan bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini dengan kesaksian Nabinya shallallahu 'alaihi wasallam,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ.
"Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang setelah mereka, kemudian orang-orang setelah mereka." (HR. al-Bukhari dari Ibnu Mas'ud dan Muslim dari Imran bin Hushain. Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1118; dan Mukhtashar Shahih Muslim, no. 1743).
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Benar, para sahabat adalah orang-orang terbaik umat ini, era mereka adalah era emas dan zaman mereka adalah zaman paling gemilang dari umat ini. Pada masa mereka, Islam mencapai puncak kemuliaan dan kehormatan tertinggi yang tidak tertandingi. Cukuplah kesaksian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai bukti yang tidak terbantahkan. Mereka adalah orang-orang hasil polesan tangan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang menyertai dan mengiringi Rasu-lullah shallallahu 'alaihi wasallam, mereka menyaksikan ayat-ayat diturunkan, mereka menghadiri hadits-hadits disabdakan, keutamaan-keutamaan yang tidak akan pernah diraih oleh seorang pun dari umat ini selain mereka.
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam adalah nabi dan rasul terbaik, maka orang-orang yang mendampinginya adalah orang-orang terbaik. Masyarakat era sahabat adalah masyarakat terbaik. Masyarakat dengan hukum Allah dan RasulNya yang diterapkan di semua lini. Gelar abad terbaik dan predikat era emas yang diwujudkan oleh para sahabat, tidak mereka wujudkan begitu saja seperti membalik telapak tangan, bukan. Akan tetapi mereka mewujudkannya dengan sebab-sebab dan usaha-usaha yang telah mereka berikan dan buktikan, di mana sebab dan usaha utama dari mereka adalah iman kepada Allah dan RasulNya dengan iman yang sebenar-benarnya.
Karena iman mereka kepada Allah dan RasulNya-lah, maka mereka berpegang kepada Firman Allah dan sabda RasulNya, mereka membenarkan berita-berita Allah dan RasulNya, ketika Allah memberitakan tentang diriNya kepada mereka bahwa Dia berse-mayam di atas Arasy, bahwa Dia bersama mereka, bahwa Dia memiliki wajah dan tangan, bahwa Dia memiliki sifat-sifat dzatiyah dan fi'liyah lainnya, maka mereka semua menerima dan beriman. Tidak seorang pun dari mereka yang membantahnya atau membelokkannya atau menafsirkannya dengan akal atau bertanya bagaimana atau mengapa. Sikap yang sama mereka tunjukkan pada saat mereka mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda bahwa Allah tertawa dan berbahagia, bahwa Allah memiliki kaki, bahwa Allah turun ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir. Iman membuat mereka meyakini bahwa berita Allah dan rasulNya hanyalah kebenaran yang harus diterima.
Karena iman, mereka menaati Allah dan RasulNya tanpa bantahan dan penundaan, perintah Allah dan RasulNya mereka laksanakan, dan larangan Allah dan RasulNya mereka tinggalkan pada saat itu juga. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari al-Bara' bin Azib bahwa ketika perintah menghadap Ka'bah sebagai kiblat dalam shalat diturunkan, ada seorang laki-laki yang telah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan menghadap Ka'bah, selesai shalat, laki-laki ini melewati sekelompok orang-orang Anshar dalam shalat Ashar dan mereka masih menghadap Baitul Maqdis. Lalu laki-laki tersebut bersaksi kepada mereka bahwa dia telah shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan menghadap Ka'bah, maka orang-orang Anshar tersebut berbalik pada saat itu juga sehingga mereka menghadap Ka'bah (Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 252). Imam Muslim meri-wayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu bahwa di perang Khaibar, para sahabat memasak daging keledai lalu seorang penyeru Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berseru, "Ketahuilah, sesungguhnya Allah dan RasulNya melarang kalian darinya, ia kotor termasuk perbuatan setan." Anas berkata, "Bejana-bejana yang berisi daging keledai yang sudah mendidih tersebut langsung ditumpahkan." (Mukhtashar Shahih Muslim no. 1330).
Iman yang membuat mereka demikian patuh dan taat, mereka meresapi Firman Allah Ta'ala,
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah." (Al-Hasyr: 7).
Mereka menyadari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
كُلُّ أُمَّتِيْ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِيْ دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِيْ فَقَدْ أَبَى.
"Seluruh umatku masuk surga kecuali orang yang enggan." Mereka bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang enggan?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam men-jawab, "Barangsiapa menaatiku, maka dia masuk surga dan barang-siapa mendurhakaiku, maka dia telah enggan." (HR. al-Bukhari, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 2117).
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Semoga Allah Ta'ala membimbing kita untuk meneladani mereka sehingga kita sanggup menyikapi perintah dan larangan Allah Ta'ala dengan ketaatan.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Iman membuat para sahabat bersikap demikian patuh dan taat, berita dari Allah dan RasulNya mereka benarkan, perintah mereka laksanakan, dan larangan mereka tinggalkan tanpa tarik-ulur, tanpa menentangnya dengan alasan tidak nalar, tanpa meno-laknya dengan alasan tidak berperasaan. Dari sini kita melihat bahwa mereka adalah orang-orang yang bersatu di atas kebenaran, mereka tidak tersusupi oleh perpecahan meskipun terjadi di akhir era mereka, akan tetapi tidak seorang pun dari mereka yang menjadi biang keladi perpecahan atau pemimpin firqah-firqah bid'ah dan sesat. Oleh karena itu, jika mereka bersepakat, maka ia merupakan kesepakatan umat sebagaimana para ulama menyatakan bahwa pemahaman mereka wajib dikedepankan dari pemahaman selain mereka, karena mereka adalah orang-orang yang paling tulus, paling bersungguh-sungguh, dan paling ikhlas dalam mencari kebenaran.
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Iman membuat mereka menyintai Allah dan RasulNya di atas segala perkara, melebihi harta, orang tua, keluarga bahkan diri mereka sendiri. Mereka mengerti benar Firman Allah Ta'ala,
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
"Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (At-Taubah: 24).
Mereka memahami sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.
"Salah seorang dari kalian tidaklah beriman sehingga aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan manusia seluruhnya." (HR. al-Bukhari dari Anas, Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 15).
Kecintaan mendorong mereka memberikan dan mengorbankan segala apa yang mereka miliki demi membela Allah, Rasul, dan AgamaNya. Tidak jarang kita membaca dalam perbincangan mereka, "Aku rela menjadikan bapak dan ibuku sebagai tebusanmu ya Rasulullah." Tidak sebatas perbincangan, ia terealisasikan dan terbuktikan dalam perbuatan nyata. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendorong bersedekah, maka tidak heran jika di antara mereka yakni Abu Bakar radhiyallahu 'anhu hadir membawa seluruh hartanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan hanya meninggalkan Allah dan RasulNya bagi keluarganya. (Abu Dawud, no. 1678; at-Tirmidzi, no. 3684; dan at-Tirmidzi berkata, "Hasan shahih."). Penulis ar-Rahiq al-Makhtum menyebutkan bahwa demi mempersiapkan pasukan perang Tabuk, Utsman radhiyallahu 'anhu merogoh koceknya sebesar seribu dinar ditambah sembilan ratus unta dan seratus kuda, sehingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak ada yang memudharatkan Utsman apa yang dia lakukan setelah hari ini." (HR. at-Tirmidzi, no. 3100, dia berkata, "Hadits hasan gharib"). Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Anas bahwa ketika Firman Allah turun,
لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya." (Ali Imran 92),
Abu Thalhah datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyerahkan harta yang paling dia cintai yaitu sebuah kebun kurma Bairuha'. Abu Thalhah berkata, "Ia adalah sedekah untuk Allah, aku berharap kebaikan dan pahalanya di sisi Allah, letakkanlah ya Rasulullah di bidang yang Allah tunjukkan kepadamu." (Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 700, Mukhtashar Shahih Muslim, no. 529).
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Iman membuat mereka tidak sekedar mengorbankan harta, lebih dari itu yaitu jiwa raga. Kita bisa membaca hal itu dari ucapan al-Miqdad bin al-Aswad, "Kami tidak berkata seperti kaum Musa, 'Pergilah kamu dan Tuhanmu, berperanglah.' Akan tetapi kami berperang di sebelah kanan, kiri, depan, dan belakangmu." (Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1525). Kita bisa melihatnya pada tujuh orang Anshar di perang Uhud, pada saat kaum muslimin tercerai-berai dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dalam situasi kritis karena musuh yang terus mendesak, bagaimana tujuh orang tersebut gugur syahid satu persatu demi melindungi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. (Mukhtashar Shahih Muslim no. 1160). Ini hanyalah sedikit dari banyak pengorbanan para sahabat, hal itu bisa dibaca di buku-buku sunnah dan sirah.
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Mampukah kita menandingi dan menyusul mereka? Tidak bisa, walaupun demikian kita tetap bisa bersama mereka, bukankah Allah Ta'ala telah berfirman,
وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً
"Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang se-baik-baiknya." (An-Nisa`: 69).
Bukankah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda, "Kamu bersama orang yang kamu cintai." Dengan berpijak kepada hadits ini, Anas berkata, "Aku mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar, aku berharap bersama mereka dengan cintaku kepada mereka meskipun aku tidak beramal seperti amal mereka." (Mukhtashar Shahih al-Bukhari, no. 1459).
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.
(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum'at

NGERINYA NERAKA

Oleh: Waznin Mahfud
KHUTBAH PERTAMA
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Hadirin Jama'ah Jum'at Rahimakumullah!
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita, sebab takwa itulah yang menjadi bukti bahwa kita benar-benar beriman.
Allah Ta'ala berfirman,
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati me-lainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran: 102).
Takwa adalah jaminan kebahagiaan bagi hidup kita di dunia dan di akhirat. Allah Ta'ala berfirman,
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah dan RasulNya, maka sesungguh-nya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (Al-Ahzab: 70-71).
Untuk itu, marilah kita perkokoh ketakwaan kita sehingga Allah berkenan memenuhi janjiNya untuk kita, yaitu kebahagiaan di akhirat dan dijauhkan dari siksaan neraka.
Hadirin Rahimakumullah!
Sesungguhnya rasa takut kita kepada siksa neraka adalah hidayah agung dari Allah yang diberikan kepada kita yang patut disyukuri, demi kewaspadaan dan kehati-hatian kita di dalam menempuh jalan hidup yang lurus dan benar.
Mari kita mencoba mengetahui beberapa poin penting yang berkaitan dengan neraka, agar keimanan kita bertambah dan selalu berusaha meninggalkan maksiat-maksiat yang dapat menjerumus-kan kita ke salah satu jurangnya yang sangat dalam. Sebab, kejahilan kita terhadap hakikat neraka akan membuat kita menyepelekan faktor-faktor berbahaya yang dapat membuat kita menjadi salah satu dari penghuni tempat sadis tersebut. (Na'udzubillah min dzalik)
Yang pertama, neraka adalah sebuah tempat (yang sangat luas yang diciptakan oleh Allah) untuk menyiksa hamba-hamba-Nya (yang bermaksiat, membangkang maupun kafir kepadaNya), dan neraka itu terus merasa kurang untuk diisi, sampai Allah Ta'ala meletakkan (tapak) kakiNya, kemudian neraka berkata, "Cukup, cukup!" (Sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
Yang kedua, neraka mempunyai tujuh pintu, setiap pintu itu akan dimasuki oleh golongan-golongan pembangkang dan pelaku maksiat tertentu.
Allah Ta'ala berfirman,
لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِّكُلِّ بَابٍ مِّنْهُمْ جُزْءٌ مَّقْسُومٌ
"Jahanam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka." (Al-Hijr: 44).
Yang ketiga, panasnya neraka. Panasnya tak terhingga, karena dihidupkan selama seribu tahun sehingga warnanya menjadi putih, kemudian dihidupkan selama seribu tahun lagi sehingga warnanya berubah menjadi merah, dan dihidupkan kembali selama seribu tahun lagi sehingga menjadi hitam. Mari kita bayangkan, alangkah panasnya neraka, sehingga warnanya pun bisa menjadi hitam kelam. Tak ada satu pun makhluk yang ada di atas bumi ini yang sanggup menahan panas yang begitu dahsyat ini.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan,
نَارُكُمْ جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ نَاِر جَهَنَّمَ.
"Neraka kalian adalah satu bagian dari tujuh puluh bagian dari Neraka Jahanam." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Panas api saat ini, membuat baja yang begitu keras dan kokoh bisa menjadi meleleh. Lalu bagaimana dengan tubuh-tubuh kita yang begitu lembek, ditambah dengan kadar panas yang melebihi dari panas dunia seukuran tujuh kali lipat?
Hadirin Sidang Jum'at yang Dimuliakan Allah
Poin yang keempatadalah, kobaran api neraka yang menyala-nyala. Api neraka berkobar sangat dahsyat, dan menyambar semua penghuninya tanpa belas kasihan.
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ. كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌ
"Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana, seolah-olah ia iringan unta yang kuning." (Al-Mursalat: 32, 33).
Di samping itu, api neraka juga bisa marah dan menggeram-geram ketika melihat rombongan calon penghuninya yang digiring untuk memasuki tempat tinggal mereka.
Allah Ta'ala berfirman,
إِذَا رَأَتْهُم مِّن مَّكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظاً وَزَفِيراً
"Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya."(Al-Furqan: 12).
Yang kelima, bahan bakar neraka terdiri dari manusia dan bebatuan. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman di dalam surat Al-Baqarah,
فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
"Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir." (Al-Baqarah: 24).
Yang keenam,sebagaimana neraka merupakan jurang dan lembah, maka dia mempunyai kedalaman. Jarak kedalamannya sejauh kita melempar batu dari pinggir neraka ke dalam jurang neraka selama tujuh puluh tahun. Satu keterangan dari sahabat Abu Hurairah menjelaskan,
كُنَّا مَعَ رَسُوْلِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِيُّ : أَتَدْرُونَ مَا هَذَا؟ قَالَ: قُلْنَا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: هَذَا حَجَرٌرُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِيْنَ خَرِيْفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا.
"Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tiba-tiba beliau mendengar suara dentuman, beliau shallallahu 'alaihi wasallam bertanya, 'Apakah kalian tahu suara apa ini?' Kami menjawab, 'Hanya Allah dan RasulNya yang paling tahu!' Beliau menjelaskan, 'Ini adalah batu yang dilemparkan ke dalam neraka, sejak tujuh puluh tahun yang lalu, kemudian ia melayang di dalam neraka, sekarang ini ia sampai pada dasarnya'." (HR. Muslim, 7096).
Yang ketujuh, penjaga neraka.
Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tahrim: 6).
Hadirin jama'ah Shalat Jum'ah rahimakumullah!
Yang kedelapan, badan penghuni neraka.
Untuk merasakan siksaan abadi yang dahsyat di neraka itu, maka tubuh para penghuni neraka dibesarkan, dan setiap kali kulit-kulit mereka telah menjadi hangus dan gosong, maka dia akan di-ganti dengan kulit yang lainnya, agar siksaan itu benar-benar terasa oleh mereka.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
ضِرْسُ الْكَافِرِ أَوْ نَابُ الْكَافِرِ مِثْلُ أُحُدٍ وَغِلَظُ جِلْدِهِ مَسِيْرَةُ ثَلاَثٍ.
"Gigi geraham orang kafir atau gigi taring orang kafir (di Hari Kiamat, di neraka) adalah sebesar gunung Uhud dan tebal kulitnya sejauh perjalanan tiga hari." (HR. Muslim).
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِآيَاتِنَا سَوْفَ نُصْلِيهِمْ نَاراً كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُوداً غَيْرَهَا لِيَذُوقُواْ الْعَذَابَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَزِيزاً حَكِيماً
"Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (An-Nisa`: 56).
Yang kesembilan, makanan penduduk neraka adalah berupa Zaqqum, yaitu buah dari sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim, jika penduduk neraka memakan buah itu maka perut-perut mereka akan mendidih, dikarenakan panasnya buah Zaqqum tersebut. Dengan demikian tidak akan penduduk neraka yang mendapatkan rasa kenyang, bahkan mereka akan lebih merasa lapar dan haus.
Dan Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّ شَجَرَةَ الزَّقُّومِ. طَعَامُ الْأَثِيمِ. كَالْمُهْلِ يَغْلِي فِي الْبُطُونِ. كَغَلْيِ الْحَمِيمِ
"Sesungguhnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas." (Ad-Dukhan: 43-46).
Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّا جَعَلْنَاهَا فِتْنَةً لِّلظَّالِمِينَ. إِنَّهَا شَجَرَةٌ تَخْرُجُ فِي أَصْلِ الْجَحِيمِ. طَلْعُهَا كَأَنَّهُ رُؤُوسُ الشَّيَاطِينِ. فَإِنَّهُمْ لَآكِلُونَ مِنْهَا فَمَالِؤُونَ مِنْهَا الْبُطُونَ. ثُمَّ إِنَّ لَهُمْ عَلَيْهَا لَشَوْباً مِّنْ حَمِيمٍ
"Sesungguhnya ia adalah sebatang pohon yang keluar dari dasar Neraka Jahim. Mayangnya seperti kepala setan-setan. Maka sesungguhnya mereka benar-benar memakan sebagian dari buah pohon itu, maka mereka memenuhi perutnya dengan buah zaqqum itu. Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas." (Ash-Shaffat: 63-67).
Hadirin Jama'ah Rahimakumullah!
Yang kesepuluh,minuman penduduk neraka adalah minuman yang tidak membuat rasa dahaga terobati, tidak mendapat kesejukan dan kesegaran. Minuman mereka adalah nanah yang sangat panas, yang akan membuat perut orang yang meminumnya menjadi terburai.
Allah Ta'ala berfirman,
لَّا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْداً وَلَا شَرَاباً. إِلَّا حَمِيماً وَغَسَّاقاً. جَزَاء وِفَاقاً
"Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, kecuali air yang mendidih dan nanah, sebagai pembalasan yang setimpal." (An-Naba`: 24-26).
Allah Ta'ala juga berfirman, yang artinya,
"Kemudian sesudah makan buah pohon zaqqum itu pasti mereka mendapat minuman yang bercampur dengan air yang sangat panas". (Ash-Shaffat: 67).
Serta Allah Ta'ala juga berfirman,
مِّن وَرَآئِهِ جَهَنَّمُ وَيُسْقَى مِن مَّاء صَدِيدٍ. يَتَجَرَّعُهُ وَلاَ يَكَادُ يُسِيغُهُ وَيَأْتِيهِ الْمَوْتُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَمَا هُوَ بِمَيِّتٍ وَمِن وَرَآئِهِ عَذَابٌ غَلِيظٌ
"Di hadapannya ada Jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah, diminumnya air nanah itu dan hampir dia tidak bisa menelannya dan datanglah (bahaya) maut kepadanya dari segenap penjuru, tetapi dia tidak juga mati; dan di hadapannya masih ada azab yang berat." (Ibrahim: 16-17).
Minuman itu betapa menyakitkan, menambah derita, dan menghancurkan tubuh mereka.
Siksaan bagi penduduk neraka sangatlah bervariasi, tetapi semua siksaan itu tidak ada yang ringan, sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjelaskan bahwa siksaan yang paling ringan adalah, apabila bara api neraka diletakkan di bagian lekuk telapak kaki seseorang maka otaknya akan mendidih. Sabda Rasulullah,
إِنَّ أَهْوَنَ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَرَجُلٌ تُوْضَعُ فِي أَخْمَصِ قَدَمَيْهِ جَمْرَةٌ يَغْلِي مِنْهَا دِمَاغُهُ.
"Sesungguhnya azab yang paling ringan yang menimpa penduduk neraka pada Hari Kiamat adalah apabila bara api diletakkan di lekuk kedua telapak kaki seseorang, maka otaknya akan mendidih." (HR. al-Bukhari).
Mereka akan memakan bara api sepenuh perut mereka, diakibatkan tindakan mereka di dunia memakan harta anak yatim dengan cara yang zhalim, Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَى ظُلْماً إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَاراً وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيراً
"Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (An-Nisa`: 10).
Muka-muka dan punggung-punggung mereka dipukuli oleh para malaikat, tanpa mengenal rasa belas kasihan,
وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُواْ الْمَلآئِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُواْ عَذَابَ الْحَرِيقِ
"Kalau kamu melihat ketika para malaikat mencabut jiwa orang-orang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata), 'Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar, (tentulah kamu akan merasa ngeri)'." ( Al-Anfal: 50).
Ada juga di antara mereka yang disiksa dengan disetrika lam-bung dan punggung mereka dengan emas serta perak yang tidak mereka zakatkan ketika mereka berada di dunia.
Di antara mereka pun ada yang disiksa dengan dicambuk tanpa henti dengan besi-besi panas, setiap kali mereka akan keluar, mereka digiring kembali untuk merasakan cambuk-cambuk besi ter-sebut.
Ada juga yang dibelitkan rantai api Neraka Jahanam ke leher-leher mereka dan tangan-tangan mereka, serta rantai terebut dibe-lenggukan di kaki-kaki mereka. Siksaan itu tiada berkesudahan, bersambung, dan bersambung sepanjang hari.
Hadirin Rahimakumullah!
Itulah kedahsyatan neraka dan siksaan neraka, tidak ada seorang makhluk pun yang mampu menanggung beban pedih dan sakit dari siksaan itu, maka marilah kita senantiasa memohon per-lindungan kepada Allah agar dijauhkan dari siksaanNya..
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Di dalam khutbah yang kedua ini, setelah kita memohon perlindungan dari siksa neraka, marilah kita senantiasa memohon taufik kepada Allah agar diri kita, segenap anggota keluarga kita, masyarakat kita, dan seluruh umat Islam, terutama para pemimpin bangsanya, semuanya mendapatkan hidayah dan ma'unah untuk melaksanakan ibadah dengan benar, beramal shalih dengan tulus ikhlas, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan yang menyebab-kan kita terjerumus ke dalam neraka.
Marilah kita bertaubat, marilah kita bersihkan hati dan jiwa kita dari:
1. Kekufuran, kemunafikan, kesyirikan, riya, sihir, dan seba-gainya.
2. Kesombongan, keangkuhan, ujub, egois, mementingkan diri sendiri, (bakhil, kikir).
3. Hasad, iri, dengki, putus asa, marah, dan dendam.
Marilah kita jaga mulut kita dari:
1. Dusta, bohong, adu domba, ghibah, gosip, berbicara tanpa ada manfaat atau berlebihan, mengejek, menghina, mengumpat, durhaka, bicara jorok, menuduh, bersumpah palsu, dan khianat.
2. Bergurau, banyak tertawa, banyak lelucon, sehingga kurang sekali berdzikir.
Marilah kita jaga tangan dan seluruh anggota tubuh kita dari perbuatan zhalim, kita jauhkan dari perbuatan yang merusak diri sendiri dan orang lain, seperti memakan riba, mencuri, korupsi, membunuh, berjudi, mabuk-mabukan, berbuat zhalim, tidak ber-sifat adil, suap-menyuap, berzina, bermusuhan, boros, berfoya-foya, tidak mempedulikan fakir miskin dan anak yatim.
Marilah kita menjauhkan diri dari cara-cara mencari nafkah yang batil atau yang haram, kita jauhi riba, dan segala bentuk jual beli yang batil, menipu, curang, dan sebagainya, sehingga kita hanya mencari dan mendapatkan nafkah, rizki yang halalan thayyibah, mu-barakah, yang nantinya dapat digunakan sebagai bekal beramal shalih sebanyak-banyaknya di dunia, dan di akhirat, kita dijauhkan dari Api Neraka. Amin Allahumma Amin.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.
(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum'at

YANG MEMBATALKAN IBADAH SEORANG MUSLIM

Oleh: Abdurrahman Nuryaman
KHUTBAH PERTAMA
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Kita semua pasti mengetahui apa saja yang dapat membatalkan wudhu, yang membatalkan shalat dan ibadah-ibadah lainnya, dari segi hukum fikih pelaksanaan. Akan tetapi barangkali sedikit di antara kita yang mengetahui apa saja yang dapat membatalkan amal ibadah seorang Muslim secara umum.
Membatalkan yang kita maksud adalah gugurnya atau terhapusnya pahala amal, sebagian atau keseluruhan, atau amal ibadah dan segala kebajikan itu sendiri tidak ada gunanya sama sekali, ka-rena pemiliknya telah dihukumi keluar dari Islam oleh Allah.
Membatalkan, yang dalam bahasa Arab adalah أَبْطَلَ, sering diungkapkan dengan kata أَحْبَطَ yang bermakna, menggugurkan atau menghapus.
Ibnul Atsir di dalam An-Nihayah Fi Gharib al-Hadits mengatakan, "أَحْبَطَ اللّهُ عَمَلَهُ" (Allah menggugurkan amalnya), maknanya adalah, أَبْطَلَهُ (Allah membatalkannya).
Ibnu Manzhur dalam Lisan al-Arab lebih jelas menerangkan hakikat makna ini dengan mengatakan, "Kata kerja حَبَطَ (gugur), bentuk ketiganya adalah حَبْطٌ dan bisa juga حُبُوْطٌ maknanya adalah, seseorang mengerjakan suatu amal lalu dia merusaknya sendiri."
Ini mengisyaratkan bahwa ada hal-hal tertentu yang apabila dilakukan oleh seorang Muslim, maka amal ibadahnya bisa menjadi sia-sia dan gugur tak berguna, tidak diterima Allah dan tidak mendapatkan pahala. Dengan menyadari ini, setiap Muslim wajib untuk mengetahui apa saja yang dapat merusak amal ibadahnya; tidak untuk melakukannya, akan tetapi demi menjauhi dan senan-tiasa berhati-hati terhadapnya. Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim terdapat riwayat dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu, di mana beliau berkata,
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللهِ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِيْ.
"Para sahabat bertanya kepada Rasulullah a tentang kebaikan, se-dangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan; karena saya takut akan mendapatinya." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 3338; dan Muslim, no. 3434).
Artinya, sebagaimana seorang Muslim wajib mengetahui tauhid, dia juga wajib mengetahui syirik; tidak untuk melakukan syirik, tetapi demi membersihkan tauhidnya dari syirik tersebut dan demi senantiasa membentengi dirinya secara sangat kokoh.
Demikian juga, sebagaimana setiap Muslim wajib melaksanakan kewajiban-kewajiban pokok yang telah Allah tetapkan atas setiap Muslim, dia juga wajib menghindari apa saja yang dapat menggugurkan amal-amal wajib tersebut. Dan begitu seterusnya.
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Hal-hal yang membatalkan amal ibadah (Muhbithat al-A'mal) ada dua kategori: pertama, yang membatalkan dan menggugurkan amal ibadah secara keseluruhan (atau Al-Muhbithat al-Kubra), dan kedua, yang membatalkan pahala amal yang bersangkutan saja (atau Al-Muhbithat ash-Shughra).
Berikut ini adalah apa saja yang membatalkan amal ibadah seorang Muslim secara keseluruhan, yang wajib kita ketahui dan senantiasa wajib kita hindari.
Pertama: Syirik(mempersekutukan Allah)
Tentu saja syirik ini adalah syirik besar (asy-Syirk al-Akbar), yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam. Sujud kepada ber-hala, meminta hujan kepada bintang, berdoa meminta sesuatu kepada kuburan, menyembelih hewan untuk jin dan roh-roh, berkeya-kinan bahwa keris anu dan tombak empu fulan memiliki kekuatan hebat, dan hal-hal semacamnya; semua itu adalah syirik besar yang membatalkan semua amal ibadah yang dilakukan seseorang. Shalat, puasa, haji dan sebagainya adalah sia-sia apabila disertai dengan perbuatan syirik seperti ini. Bahkan lebih dari itu pelakunya dianggap keluar dari Islam, bila yang bersangkutan tidak bertaubat dan kembali kepada Islam.
Perhatikan Firman Allah Ta'ala, yang secara tersurat dialamat-kan kepada para nabi, tapi sebenarnya adalah kepada kita semua,
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelum kamu, 'Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi'." (Az-Zumar: 65).
Alamat Firman ini adalah para nabi, termasuk Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam; artinya, apabila Nabi shallallahu 'alaihi wasallam saja yang telah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang, menjadi batal amal ibadahnya kalau melakukan syirik, maka umat biasa seperti kita pastilah akan lebih parah lagi.
Dalam Zubdah at-Tafsir yang merupakan intisari dari tafsir Fathul Qadir karya asy-Syaukani, ketika menafsirkan ayat ini dikatakan, "Syirik, apabila merupakan sesuatu yang pasti menggugurkan amal para nabi, maka syirik akan menggugurkan amal selain mereka, dari umat-umat mereka adalah lebih pasti."
Dalam surat al-An'am ayat 88, setelah Allah mengisahkan tentang sejumlah para nabi; tentang dakwah mereka, kebaikan, keshalihan, keutamaan dan hidayah Allah kepada mereka, Allah mempertegas suatu pesan yang besar dengan FirmanNya,
ذَلِكَ هُدَى اللّهِ يَهْدِي بِهِ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُواْ لَحَبِطَ عَنْهُم مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
"Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Dan (tetapi) seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am: 88).
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Kedua (dari yang membatalkan amal secara keseluruhan) adalah: Kufur.
Yang dimaksud di sini, juga Kufur Akbar dan tidak termasuk di dalamnya Kufur Ashghar. Mengenai kufur Akbar, perhatikan Firman Allah Ta'ala,
وَمَن يَكْفُرْ بِالإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam), maka terhapuslah amal-amalnya dan dia di akhirat termasuk orang-orang merugi." (Al-Ma`idah: 5).
Berikut ini sebagian dari jenis Kufur Akbar yang wajib diwaspadai setiap Muslim:
Pertama, kufur karena mengingkari atau mendustakan, yang dalam istilah para ulama disebut Kufr al-Inkar wa at-Takdzib.
Persisnya, adalah apabila seorang Muslim yang mukallaf mengingkari atau mendustakan dengan hatinya atau lisannya suatu pokok agama, atau suatu hukum dari hukum-hukumnya, atau suatu berita wahyu yang dibawa al-Qur`an atau As-Sunnah yang telah disepakati keshahihannya oleh para ulama, maka dia adalah kafir berdasarkan ijma' para ulama. Maka mengingkari sesuatu dari rukun Islam, atau rukun Iman, mengingkari uluhiyah atau rububiyah Allah atau mengingkari salah satu dari nama-nama dan sifat-sifatNya, mengingkari haramnya zina atau riba, atau bahkan mengingkari halalnya poligami dan lain sebagainya; semua ini dapat mengantarkan seseorang kepada Kufur Akbar yang mengha-pus dan menggugurkan semua amal ibadahnya. Maka hendaklah berhati-hati orang-orang yang selama ini suka mengutak-atik Agama Allah, atas nama kebebasan berpendapat, atas nama demokrasi, atas nama hak individu, atau atas nama dan atas nama lainnya yang terkadang menimbulkan kekhawatiran besar di hati seorang da'i; bagaimana seorang Muslim bisa bersikap lancang seperti itu kepada Agama Allah.
Kedua, kufur karena sikap sombong, yang diistilahkan dengan Kufr al-Istikbar. Maksudnya, seseorang membenarkan pokok-pokok Islam dengan hati dan pernyataan lisannya, akan tetapi menolak untuk tunduk dengan anggota badannya kepada hukum-hukum-nya, karena rasa sombong dan angkuhnya. Orang seperti ini adalah kafir berdasarkan ijma' para ulama.
Contoh yang paling jelas adalah sikap iblis -la'natullah Alaihi-ketika Allah memerintahkannya untuk sujud kepada Nabi Adam 'alaihis Salam. Iblis tidak mengingkari Allah sebagai Tuhan alam semesta, tidak mengingkari Allah sebagai pencipta, pemberi rizki dan pengatur alam raya ini, tidak mengingkari bahwa Allah-lah yang berhak disembah, akan tetapi iblis hanya enggan dan bersikap sombong menyikapi perintah Allah, agar dia sujud kepada Adam 'alaihis Salam. Sikap sombong itu digambarkan Allah di dalam al-Qur`an, kata iblis -sebagaimana diabadikan Allah Ta'ala-,
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلاَّ تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ قَالَ أَنَاْ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu'. Iblis menjawab, 'Saya lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah'." (Al-A'raf: 12).
Dalam ayat lain kesan angkuhnya lebih jelas,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلآئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إَلاَّ إِبْلِيسَ قَالَ أَأَسْجُدُ لِمَنْ خَلَقْتَ طِيناً
"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" (Al-Isra`: 61).
Pertanyaan, tetapi sesungguhnya merupakan penolakan dan sikap sombong yang tidak pantas dilakukan oleh seorang makhluk kepada Rabbnya. Dan karena sikap sombongnya itulah Allah berfir-man dalam surat al-Baqarah ayat 34 dan surat Shad ayat 74 mem-beritakan tentangnya yang lalu menetapkan vonis atasnya,
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُواْ لآدَمَ فَسَجَدُواْ إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
"...kecuali iblis; ia enggan dan sombong dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir." (Al-Baqarah: 34).
Ketiga, kufur karena mencela dan mengolok-olok, yang dalam kitab-kitab akidah diistilahkan dengan Kufr as-Sabb wa al-Istihza`. Ialah bahwa seorang Muslim mengolok-olok atau mencela sesuatu dari Agama Allah, baik dengan perbuatan atau dengan perkataan.
Maka mencela Allah; mencela suatu nama dari nama-nama-Nya atau suatu sifat dari sifat-sifatNya, mengolok-olok atau men-cela Rasulullah a atau sesuatu dari sunnah beliau, seperti mengo-lok poligami yang beliau lakukan atau bahkan syariat poligami itu sendiri, mengolok kewajiban memendekkan pakaian agar tidak menutupi mata kaki, mengolok-olok sunnah memanjangkan jenggot, mengolok-olok kaum Muslimin yang melaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, mencela Agama Allah atau bahkan sesuatu dari padanya; semua itu adalah bentuk-bentuk Kufr al-Istihza` yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam dan membatalkan semua amal ibadahnya.
Perhatikan peringatan Allah di dalam surat at-Taubah ayat 65-66,
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ{65} لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ إِن نَّعْفُ عَن طَآئِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَآئِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُواْ مُجْرِمِينَ
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, 'Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja.' Katakanlah, 'Apa-kah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya kamu berolok-olok?' Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah ber-iman." (At-Taubah: 65 -66).
Merupakan sebuah penegasan yang amat mengerikan bagi orang-orang Mukmin dan peringatan yang sangat menggetarkan bagi hati orang-orang yang takut kepada Allah Ta'ala.
Kaum Muslimin yang Dirahmati Allah
Yang Ketiga (Dari Yang Membatalkan Amal Seorang Muslim) adalah: Murtad dari Islam.
Allah Ta'ala dengan sangat gamblang menegaskan masalah ini di dalam FirmanNya,
وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu terhapus amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al-Baqarah: 217).
Yang ketiga ini tidak perlu kita perjelas karena sudah sangat jelas; menjelaskan suatu yang jelas adalah sulit.
Yang Kempat: Kemunafikan (An-Nifaq).
Ialah kemunafikan akbar yang dapat mengeluarkan pelaku-nya dari Islam. Dan ini juga masalah yang sangat jelas dalam akidah Islam. Allah Ta'ala berfirman,
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَن تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرا
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada ting-katan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka." (An-Nisa': 145)
Kelima: Lancang dengan bersumpah (memastikan hukuman) atas Nama Allah Ta'ala.
Imam Muslim meriwayatkan di dalam Shahihnya dari sahabat Jundab bin Abdillah radhiyallahu 'anhu,
أَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ حَدَّثَ: أَنَّ رَجُلًا قَالَ: وَ اللّهِ لَا يَغْفِرُ اللّهُ لِفُلَانٍ، وَإِنَّ اللّهَ قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِيْ يَتَأَلَّى عَلَيَّ أَنْ لَا أَغْفِرَ لِفُلَانٍ؛ فَإِنِّيْ قَدْ غَفَرْتُ لِفُلَانٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ.
"Bahwasanya Rasulullah a menceritakan, 'Bahwa ada seseorang berkata, 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan', sedang-kan Allah justru berfirman, 'Siapa yang lancang mengatakan (atas namaKu) bahwa Aku tidak akan mengampuni fulan? Aku telah mengampuni si fulan dan Aku telah menggugurkan amalmu'." (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 4753)
Kemudian perhatikan hadits berikut ini. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menceritakan,
كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ مُتَوَاخِيَيْنِ، فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ فِي الْعِبَادَةِ، فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى الذَّنْبِ، فَيَقُولُ: أَقْصِرْ، فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ، فَقَالَ لَهُ: أَقْصِرْ، فَقَالَ: خَلِّنِيْ وَرَبِّيْ، أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيْبًا؟ فَقَالَ: وَاللّهِ لَا يَغْفِرُ اللّهُ لَكَ -أَوْ: لَا يُدْخِلُكَ اللّهُ الْجَنَّةَ- فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَقَالَ لِهٰذَا الْمُجْتَهِدِ: أَكُنْتَ بِيْ عَالِمًا؟ أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا؟ وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ: اِذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِيْ، وَقَالَ لِلْآخَرِ: اِذْهَبُوْا بِهِ إِلَى النَّارِ.
"Dahulu ada dua orang laki-laki bersaudara di tengah Bani Israil, salah seorang dari keduanya suka berbuat dosa, sedangkan yang seorang lagi rajin beribadah. Yang rajin beribadah tersebut terus melihat yang satunya lagi suka berbuat dosa, sehingga dia sering berkata (menasihatinya), 'Berhentilah (melakukan dosa)', dan suatu hari dia mendapatkannya tengah melakukan dosa, dan dia berkata kepadanya, 'Berhentilah (melakukan dosa)'. Akan tetapi (orang yang ditegur) menimpalinya dengan mengatakan, 'Biarkan aku (ini adalah urusanku) dengan Rabbku, apakah kamu diutus sebagai pengawas bagi diriku?' Maka (karena kesal) yang rajin beribadah itu berkata kepadanya, 'Demi Allah, Allah tidak akan mengam-punimu'-atau dia mengatakan, 'Allah tidak akan memasukkanmu ke dalam surga'-. Maka Allah mengambil nyawa mereka berdua lalu (kelak) akan bersama menghadap kepada Allah Rabb semesta alam. Firman Allah kepada yang rajin beribadah itu, 'Apakah kamu tahu tentang Aku? Ataukah kamu punya kuasa terhadap apa yang ada di TanganKu?' Kepada yang suka berbuat dosa itu Allah berfirman, 'Pergilah dan masuk ke dalam surga dengan rahmatKu', sedangkan untuk yang rajin beribadah itu (karena kelancangannya tersebut) Allah firmankan (kepada para malaikat), 'Bawalah dia masuk ke dalam neraka'." (Diriwayatkan oleh Ahmad, no. 8093dan Abu Dawud, no. 4901, serta dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud).
Keenam: Lancang terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan meninggikan suara melebihi suara beliau.
Mengenai ini Allah memberikan peringatan yang keras di dalam KitabNya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَن تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepa-danya dengan suara keras seperti kerasnya (suara) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain, supaya amalmu tidak terhapus sedang-kan kamu tidak menyadari." (Al-Hujurat: 2).
Mengangkat suara saja di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melebihi suara beliau dapat membatalkan dan menggugurkan amal ibadah seseorang, apalagi lebih dari itu.
Mungkin seseorang akan berkata, "Itu kan dulu, di zaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masih hidup dan bagi orang-orang yang hidup bersama beliau. Apakah itu masih relevan untuk kita sekarang?"
Masalah ini dijawab oleh seorang ulama besar, Imam al-Qadhi Abu Bakar Ibnul Arabi. Kata beliau, "Kehormatan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam setelah wafatnya adalah seperti kehormatan beliau ketika masih hidup, dan kemuliaan sabda beliau yang diriwayatkan (al-Hadits) sama dengan kemuliaan sabda beliau yang didengar melalui ucapan beliau secara langsung. Maka apabila sabda beliau disampaikan (dibacakan), setiap orang yang ada (yang hadir) wajib untuk tidak mengangkat suaranya dan tidak berpaling daripadanya, sebagai-mana yang mesti dia lakukan di tengah majelis beliau ketika beliau mengucapkannya secara langsung." (Dinukil oleh Imam al-Qurthubi dalam tafsir beliau 8/200, cet. Maktabah at-Taufiqiyah).
Camkan baik-baik perkataan agung dari Imam Ibnul Arabi ini. Perkataan yang harus senantiasa kita ingat agar kita senantiasa menempatkan sabda-sabda Nabi kita a di tempat yang mulia dan terhormat, kemudian menyikapinya sebagaimana seorang sahabat menyikapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau bersabda, berikut menerimanya sebagaimana seharusnya seorang Muslim menerima wahyu, menjadikannya sebagai sumber hukum, dan bahkan sebagai tolok ukur dan hakim di dalam perbedaan pandangan di kalangan umat.
Imam al-Qurthubi kemudian menjelaskan, "Mengangkat suara di hadapan Nabi shallallah 'alaihi wasallam yang dimaksud, bukan dimaksud untuk meremehkan atau mengolok-olok; karena itu sudah jelas merupakan kekufuran."
Karena itu, hendaklah berhati-hati orang-orang yang selama ini meremehkan sabda-sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, karena itu adalah suatu kekufuran dan paling tidak dapat menggugurkan pahala ibadah.
Adalah tidak pantas bagi seorang Muslim, yang beriman kepada Allah dan RasulNya menyikapi sabda-sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam hanya sebagai isu, hanya sebagai bahan pelengkap, hanya sebagai penghias makalah-makalah batil, hanya sebagai pembenaran pandangan kita. Maka jangan heran, misalnya, kalau kita pernah men-dengar ada orang yang mengatakan, "Hadits 'Semua bid'ah adalah sesat dan semua kesesatan adalah di neraka' tidak sesuai untuk disampaikan di hadapan masyarakat Indonesia, karena ini akan memecah belah umat dan esensi yang kontra produktif."
Ini adalah kelancangan yang sangat berbahaya yang seharusnya kita senantiasa berhati-hati daripadanya. Semua itu agar kita tidak termasuk di antara orang-orang yang amal ibadahnya gugur dan sia-sia.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Poin ini perlu kita perlebar, agar menjadi lebih jelas bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi sabda-sabda Nabi atau dengan ungkapan yang lebih tepat, hadits-hadits-Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
Pertama, tidak diperkenankan bagi seseorang, ketika mendengar suatu hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk menolaknya; dengan anggapan bahwa itu adalah konsep kontra produktif, atau tidak sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia, atau dengan alasan apa pun.
Kedua, tidak diperkenankan bagi seseorang untuk mendahu-lukan atau lebih memilih perkataan seseorang dari pada hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, sekalipun orang tersebut adalah salah seorang di antara imam-imam ahli ilmu.
Perhatikan perkataan Imam asy-Syafi'i rahimahullah. Beliau berkata,
"Kaum Muslimin telah ijma' bahwasanya barangsiapa yang telah jelas baginya suatu sunnah (hadits) Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka tidak halal baginya untuk meninggalkannya karena mengambil pendapat seseorang."
Imam Ahmad rahimahullah juga berkata,
"Barangsiapa menolak hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia sedang berada di tebing jurang kebinasaan."
Dua perkataan agung ini dan perkataan-perkataan serupa, bahkan juga dari Imam Malik bin Anas dan Imam Abu Hanifah, dapat kita lihat secara rinci dengan takhrij dan penjelasannya di dalam mukadimah kitab Shifatu Shalat an-Nabi shallallahu 'alaihi wasallam karya al-Imam al-Muhaddits, al-Albani rahimahullah.
Ketiga, barangsiapa yang berani lancang terhadap hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka ketahuilah bahwa itu adalah tanda yang sangat jelas bahwa orang tersebut telah binasa, yang di dalam hatinya telah terjangkit penyakit yang sangat berbahaya, bahkan boleh jadi telah digerogoti oleh kekufuran.
Keempat, kelima dan seterusnya tentu saja tidak urgen untuk disebutkan secara detail di dalam khutbah Jum'at yang sunnahnya memang dipendekkan seringkas dan sepadat mungkin.
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Semua itu tadi harus kita usahakan untuk dihindari, agar kita menjadi orang-orang yang senantiasa disayang Allah, diberkati dan mendapat ampunanNya.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Hadirin Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Perhatikan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
"Barangsiapa yang mengerjakan suatu amal yang tidak didasari oleh Agama kami, maka amal tersebut tertolak." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dan ini adalah lafazh Muslim).
Kedua: Mendatangi dan bertanya tentang sesuatu kepada tukang ramal atau dukun.
Tentang ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً.
"Barangsiapa yang datang kepada tukang ramal (dukun) lalu ber-tanya tentang sesuatu kepadanya, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam (dan hari)." (Diriwayatkan oleh Mus-lim, no. 2230).
Dan tentu masih banyak lagi yang lainnya.
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Jangan lupa untuk bershalawat atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai Hari Kiamat nanti.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.
(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum'at

MENDIDIK ANAK MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

Oleh: Suroso Abd. Salam, M.Pd.
KHUTBAH PERTAMA
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.
Para Hadirin, Jama'ah Shalat Jum'at Sekalian
Salah satu nikmat, amanah, sekaligus ujian dari Allah Ta'ala adalah hadirnya seorang anak di tengah keluarga kita. Perilaku lucu, cerdik, menggelikan, sekaligus menyenangkan, senantiasa mereka tampilkan. Hal itu membuat suasana keluarga semakin meriah. Hadirnya momongan di tengah keluarga merupakan dambaan pasutri (pasangan suami-istri) atau orang tua. Karena itu dapat kita bayangkan, betapa sepinya keluarga, jika anak tak berada di sisi pasutri.
Selanjutnya, cara orang tua menyambut, menjaga, memelihara, mengarahkan, membimbing, atau mendidik anak untuk kehidupan anak di masa depan jangka pendek (dunia) dan jangka panjang (akhirat) akan memberikan andil besar atau bahkan menentukan bagi:
1. Sukses tidaknya orang tua di dalam bersyukur kepada Allah Ta'ala atas nikmat dariNya berupa anak, sehingga anak tidak dicema-ri fitrahnya.
2. Sukses tidaknya orang tua di dalam menunaikan amanah Allah Ta'ala berupa anak, sehingga akan tumbuh anak-anak shalih atau shalihah.
3. Sukses tidaknya orang tua di dalam menempuh ujian dengan lahirnya anak di tengah keluarga, sehingga anak tidak menjadi penyebab orang tua meninggalkan ibadah kepada Allah Ta'ala.
Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah,
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda,
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.
"Tidaklah anak manusia dilahirkan melainkan pasti lahir di atas fitrahnya, maka kemudian orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi." (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Berdasarkan hadits ini kita mengetahui, bahwa anak lahir dalam keadaan fitrah (bertauhid dan berpotensi baik). Jika kemudian anak menjadi menyimpang, ia menjadi Yahudi/Nasrani/ Majusi, dan ahli maksiat, maka orang tua memiliki andil besar sebagai penyebabnya. Mengapa?
Sebabnya adalah: Pertama, orang tua adalah pihak yang sejak awal paling dekat dan berpengaruh langsung kepada anak.
Kedua, orang tua tidak memberikan perawatan dan pendidikan yang tepat sejak usia dini. Orang tua justru memberikan pendidikan yang menyimpang dari Tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Jika orang tua mencari rizki (nafkah) dengan cara yang batil (hasil menipu, mencuri, korupsi, riba, memeras, dan sejenisnya), maka nafkah tersebut tidak berkah (tidak mengandung kebaikan). Lantas, anak dan istri, juga diri ayah tersebut tumbuh dari pera-watan fisik/jasad (nafkah) yang haram. Pengaruhnya, hati manusia menjadi keras untuk menerima kebenaran dari Allah Ta'ala dan RasulNya.
Hal itu akan diperparah lagi dengan cara, harta dari hasil yang haram tersebut dibelanjakan untuk makanan, minuman, dan hal-hal lain yang haram (untuk merokok, berjudi, khamar, narkoba, membeli daging babi dan marus/darah binatang dan sejenisnya). Maka tumbuhlah jasmani yang tidak sehat. Inilah bentuk perawatan yang menyimpang.
Adapun pendidikan yang menyimpang terlihat dengan jelas, manakala orang tua menyerahkan pendidikan anak mereka pada sekolah-sekolah yang tidak menghargai pendidikan Agama secara memadai. Hal itu diperburuk dengan pendidikan agama yang di-ajarkan itu pun menyimpang dari sumber rujukan Islam (al-Qur`an dan as-Sunnah).
Berbarengan dengan hal itu, anak dicekoki dengan berbagai acara di TV, radio, dan sejenisnya selama berjam-jam setiap harinya. Demikian halnya di masyarakat marak sekali adanya acara panggung-panggung hiburan yang jauh dari tuntunan Islam. Dileng-kapi dengan pergaulan yang dialami anak, baik di lingkungan keluarga besarnya, di masyarakat, dan di berbagai kesempatan, jauh dari akhlak Islami. Disempurnakan dengan bahan bacaan (majalah, surat kabar, tabloid, novel, puisi, kaset/CD/DVD, dan sejenisnya) yang mengumbar kemaksiatan (pornografi dan sejenisnya), maka genap lengkap dan sempurnalah pendidikan anak yang menyimpang menjadi menu/program/kurikulum yang mengarahkan anak menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.
Sungguh besar pengaruh orang tua terhadap anak. Pepatah mengatakan, "Mangga jatuh tidak jauh dari pohonnya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun telah bersabda,
اَلْمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ.
"Agama seseorang tergantung kepada siapa yang menjadi orang yang paling dicintainya. Maka coba perhatikan siapa orang yang paling dicintai oleh salah seorang dari kalian." (HR. Ahmad).
Sadar atau pun tidak, orang tua dan masyarakat yang demi-kian telah dengan mulus memberikan jalan kepada program-program kerja Yahudi, Nasrani, dan Majusi, yang dengan gigih menyediakan semua waktu, tenaga, dan pikiran, program hiburan, serta hartanya di dalam program pemurtadan umat Islam dalam bentuk 'tidak harus berpindah agama'.
Firman Allah Ta'ala,
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)'. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (Al-Baqarah: 120).
Jama'ah Jum'at Rahimakumullah
Inilah tantangan umat Islam dari luar dirinya di masa kini dan mendatang. Demikian halnya kelemahan umat Islam sendiri (tidak memahami Islam dengan benar, taklid, berlebih-lebihan di dalam mencintai orang-orang shalih, maupun meremehkan agama, tidak istiqamah, dan sejenisnya, lemah iptek, tak profesional di dalam beramal, dan lain-lain) merupakan tantangan dari dalam tubuh umat Islam yang harus dijawab umat Islam sendiri.
Orang tua, khususnya ayah, adalah pihak yang paling ber-tanggung jawab untuk menyelesaikan agenda besar ini dalam ling-kup keluarga yakni pendidikan yang sejalan dengan fitrah anak. Pendidikan anak yang demikian dapat menghadapi tantangan masa kini dan masa depan yang bersifat materialistis, liberalistis, anti AGAMA, dan pengumbar nafsu yang diciptakan oleh Yahudi, Nasrani, dan Majusi.
Allah Ta'ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluarga-mu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (At-Tah-rim: 6).
Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah,
Sekiranya orang tua sanggup mengatasi tantangan dari dalam dan luar tersebut, dengan cara memberikan perawatan yang baik dan halal, serta pendidikan yang berbasis Islam yang mengem-bangkan fitrah anak, maka akan lahir anak-anak yang bertauhid, berbuat baik, menguasai bidang keahlian yang dipilihnya, dan istiqamah di atas Din yang haq (Dinul Islam). Akhirnya kelak akan lahir anak-anak yang sanggup menghadapi tantangan materialis-me, liberalisme, anti Agama, dan para pengumbar nafsu produk dan antek Yahudi dan Nasrani. Insya Allah Ta'ala mereka akan mengungguli musuh-musuh Allah, musuh-musuh Islam, dan musuh-musuh kaum Muslimin hari ini dan ke depan.
Demikian halnya, anak merupakan amanah.
Orang tua yang sukses adalah mereka yang sanggup mengemban amanah. Sesunguhnya Allah c telah mempercayakan makhlukNya (berupa anak) untuk dirawat/diasuh dan dididik oleh orang tua. Orang tua yang menyadari hal ini, mereka akan memperkuat keikhlasan, kesabaran, dan kesung-guhannya di dalam merawat dan mendidik amanah Allah Ta'ala. Anak merupakan asset masa depan (dunia, jangka pendek dan akhirat, jangka panjang). Tanpa keikhlasan, kesabaran, dan kesungguhan (juhud) yang prima, niscaya orang tua akan menghadapi kegagalan di dalam menunaikan amanah.
Orang tua hendaknya mengerahkan segala daya upaya -yang juga merupakan karunia Allah Ta'ala- untuk meraih keuntungan/ kebaik-an dunia akhirat bagi diri mereka dengan cara menunaikan amanah yakni merawat dan mendidik anak. Mereka selalu mengingat dan melaksanakan sabda Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam berikut,
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ، أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ.
"Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka terputus-lah semua amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim).
Anak shalih/shalihah tidaklah akan mungkin terwujud, manakala perawatan dan pendidikan terhadapnya menyimpang. Oleh karena itu, orang tua yang menghendaki buah yang segar di dunia maupun di akhirat berupa anak shalih/shalihah, maka hendaknya mereka mempersiapkannya sebaik mungkin sejak dini.
Anak shalih adalah anak yang berbuat baik yakni anak yang tergambarkan di dalam Firman Allah Ta'ala berikut ini,
وَاعْبُدُواْ اللّهَ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئاً وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالاً فَخُوراً
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukanNya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba saha-yamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang som-bong dan membangga-banggakan diri." (An-Nisa`: 36).
Berdasarkan ayat ini, anak/orang yang baik adalah:
1. Bertauhid dan tidak menyekutukan Allah c.
2. Birrul walidain (berbakti kepada ibu bapak).
3. Berbuat baik kepada sesama manusia.
4. Tidak sombong dan bangga diri.
Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah,
Anak shalih yang berciri-ciri seperti digambarkan pada surah an-Nisa` 36 itulah yang sanggup menjawab tantangan zaman, yang sanggup mengatur dunia ini dalam rangka taat kepada Allah Ta'ala. Dan hal itu merupakan karunia dariNya kepada siapa yang Dia Ke-hendaki. Perhatikan Firman Allah Ta'ala,
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada menyekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (An-Nur: 55).
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ, إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Upaya orang tua berikutnya dalam rangka menyiapkan anak menghadapi tantangan zaman di masanya adalah bahwa sejak awal orang tua harus menyadari bahwa anak merupakan ujian bagi diri mereka. Allah c memberikan karunia anak, berarti Allah Ta'ala juga sedang menguji orang tua. Luluskah dalam ujian?
Ujian yang datangnya dari Allah Ta'ala memiliki tujuan untuk mengetahui dengan sebenarnya siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang dusta; siapa yang bersungguh-sungguh dan siapa yang bermain-main; siapa yang terbaik amalnya dan siapa yang merugi. Hal ini banyak disebutkan di dalam al-Qur`an al-Karim. Di antaranya,
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: Wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ter-nak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (Ali Imran: 14).
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً
"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan anak-anak yang lemah di belakang mereka, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (An-Nisa`: 9).
وَاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya se-bagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar." (Al-Anfal: 28).
Jama'ah Jum'ah Rahimakumullah,
Jika kita sebagai orang tua -lebih khusus sebagai ayah- sanggup merawat dan mendidik anak dengan berbasiskan Islam, sehingga ciri-ciri anak shalih seperti tersebut di atas teraih, maka inilah bukti kita mengikuti dan taat kepada Allah Ta'ala dan Rasul-Nya, bukti bahwa kita cinta kepada Allah Ta'ala dan RasulNya, bukti bahwa kita telah bersungguh-sungguh (berjihad) dalam dunia pen-didikan fi sabilillah.
Anak adalah ujian yang jika kita kurang hati-hati, akan menempatkan kita pada derajat fasik, mengapa? Sebab jika kita teledor, maka saking cintanya kita kepada anak, dapat melalaikan kita dari cinta dan taat kepada Allah Ta'ala, RasulNya, dan berjihad di jalan-Nya. Perhatikan FirmanNya,
قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
"Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniaga-an yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya dan (dari) berjihad di jalanNya, maka tunggulah sam-pai Allah mendatangkan keputusanNya'. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (At-Taubah: 24).
Karena itulah, mari kita siapkan, kita rawat, dan kita didik anak-anak kita untuk menghadapi berbagai tantangan zaman seperti materialisme, komunisme, sekularisme, liberalisme, dan berbagai isme-isme lainnya buatan manusia yang dimotori oleh Yahudi dan Nasrani serta Majusi.
Kita rawat dan didik anak-anak kita dengan basis Islam untuk mewujudkan anak-anak yang shalih. Anak-anak yang beriman/ bertauhid, istiqamah di atas keimanan dan ketakwaan, berakhlak karimah, dan profesional/ahli di bidang spesialisasinya. Dengan anak yang shalih inilah dunia akan aman, tentram, sejahtera dalam keadaan tunduk patuh kepada Allah Ta'ala. Dengan demikian, kita telah mencapai tujuan diciptakannya manusia itu sendiri di dunia ini.
Marilah kita tundukkan hati, pikiran, dan perasaan kita ke hadapan Allah, Rabbul 'alamin. Kita memohon kepadaNya, semoga berkenan kiranya Dia menurunkan karunia, taufik, hidayah, dan inayahNya kepada kita semuanya, amin,
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ اْلعَالمَِينَ.
(Dikutib dari Buku Kumpulan Khutbah Jum'at